Asa dari Kedelai, Kisah Pengusaha Penerus Pabrik Tempe

  • 20 Apr 2026 17:42 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA - Di sebuah sudut yang sibuk, aroma khas kedelai rebus dan ragi menyeruak dari sebuah bangunan yang telah menjadi saksi bisu perjuangan keluarga selama puluhan tahun. Di sanalah Bang Anto, pria berusia 38 tahun, setiap hari bergelut dengan ratusan kilogram kedelai demi menyambung napas usaha warisan orang tuanya.

Usaha tempe ini bukanlah bisnis kemarin sore. Dimulai oleh orang tuanya sejak tahun 1981 di kawasan Kemayoran, usaha ini kemudian berpindah ke lokasi saat ini di tahun 2007. Bang Anto, sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, adalah satu-satunya yang memilih untuk meneruskan tongkat estafet ini.

Meski sempat mencicipi asam garam sebagai buruh pabrik selama lebih dari sepuluh tahun, Bang Anto akhirnya memutuskan pulang ke rumah untuk mengelola pabrik tempe sendiri selama enam tahun terakhir. “Lebih nyaman jadi pengusaha,” ujarnya singkat namun penuh keyakinan kepada RRI Jakarta Minggu 19 April 1016.

Baginya, menjadi bos di usaha sendiri memberikan keleluasaan meski tanggung jawabnya jauh lebih besar.

Proses pembuatan tempe ternyata menuntut kesabaran ekstra. Dibutuhkan waktu empat hari dari mulai pengolahan kedelai hingga tempe siap dipasarkan. Setiap harinya, pabrik ini mampu memproses sekitar 100 kilogram kacang kedelai dengan omzet rata-rata mencapai Rp1,7 juta per hari.

Namun, bisnis ini bukan tanpa hambatan. Bang Anto kini harus memutar otak menghadapi fluktuasi harga bahan baku. Harga kedelai yang semula Rp9.600 per kilogram melonjak menjadi Rp10.800. Belum lagi harga plastik pembungkus yang juga naik mencapai Rp55.000 per kilogram. Untuk menyiasatinya, Bang Anto memilih untuk sedikit mengurangi ukuran tempe daripada menaikkan harga secara drastis, demi menjaga loyalitas pelanggannya.

Selain masalah harga, tantangan alam juga menjadi faktor penentu. Proses fermentasi atau "peragian" sangat bergantung pada cuaca. Jika hujan terus-menerus, ragi sulit tumbuh. Sebaliknya, saat cuaca sangat terik, tempe cepat panas dan jamur keluar lebih cepat dari seharusnya.

Masalah air pun sempat menjadi kendala, terutama saat akhir pekan ketika aliran air PAM seringkali mati. “Untungnya kita punya penampungan,” kata Bang Anto. Keandalan air sangat krusial karena ia tetap mempertahankan kualitas dengan menggunakan air PAM untuk proses pencucian kedelai.

Meski harus berjibaku dengan biaya operasional seperti tagihan air sebesar Rp1 juta dan listrik Rp800 ribu setiap bulan, hasil dari usaha tempe ini terbukti mampu menopang kehidupan keluarganya. Dari kedelai-kedelai inilah, Bang Anto mampu menyekolahkan anak-anaknya dan memiliki rumah sendiri.

Kisah Bang Anto adalah pengingat bahwa di balik sepotong tempe yang kita santap setiap hari, ada dedikasi, warisan keluarga, dan siasat cerdik seorang pengusaha kecil yang terus bertahan di tengah gempuran ekonomi. Tempe bukan sekadar makanan bagi Bang Anto, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....