Hari Kartini 2026: Tribute Rahmi Hatta Hidup lewat Suara Halida Hatta

  • 21 Apr 2026 14:24 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Tribute Rahmi Hatta di Hari Kartini 2026 menegaskan bahwa Kartini masa kini bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi perempuan yang berdaya, menjaga nilai, dan memberi makna melalui kontribusi nyata di masyarakat

RRI.CO.ID,Jakarta - Di Hari Kartini 2026, ketika banyak peringatan hadir dalam bentuk seremoni, sebuah panggung di Auditorium Perpustakaan Nasional RI justru menghadirkan sesuatu yang lebih hening, namun dalam. Sebuah penghormatan yang tidak hanya mengenang, tetapi menghidupkan kembali nilai.

Siang itu, “Tembang Alit Kartini” menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi ruang refleksi tentang perempuan, tentang sejarah, dan tentang bagaimana nilai itu terus berlanjut dalam sosok nyata, Rahmi Hatta.

Di balik panggung yang artistik, perhatian perlahan tertuju pada satu sosok yang berdiri dengan tenang: Halida Nuriah Hatta. Putri dari Rahmi Hatta itu tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi juga sebagai suara yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Saat membacakan puisi, suaranya tidak sekadar melantunkan kata. Ia membawa ingatan. Membawa rasa. Membawa keteladanan yang hidup.

Halida Nuriah Hatta membacakan puisi R.A. Kartini dalam pertunjukan “Tembang Alit Kartini” sebagai tribute Rahmi Hatta pada peringatan Hari Kartini 2026 di Jakarta. (Foto : Istimewa)

Dalam momen itu, Kartini tidak lagi terasa jauh.

Ia hadir melalui nilai yang diwariskan.

Ketika ditanya mengenai makna pertunjukan ini di Hari Kartini, Halida melihatnya sebagai sesuatu yang melampaui bentuk acara.

Pertunjukan seperti ini penting, karena mengingatkan bahwa Kartini bukan hanya tokoh sejarah, tetapi nilai yang terus hidup. Hari Kartini hari ini bukan lagi sekadar mengenang, tetapi bagaimana kita melanjutkan semangat itu dalam kehidupan nyata,” ujarnya, Minggu, 19 April 2026.

Bagi Halida, perempuan masa kini telah memiliki lebih banyak ruang. Namun pertanyaannya bukan lagi tentang akses, melainkan tentang bagaimana ruang itu diisi.

Di titik inilah, sosok Rahmi Hatta menjadi relevan.

Rahmi Hatta bukanlah sosok yang mencari sorotan. Ia dikenal sebagai perempuan yang menjalani hidup dengan ketenangan, kesederhanaan, dan keteguhan pada nilai. Dalam perannya sebagai istri Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, ia tetap menjaga identitasnya sebagai perempuan yang berbudaya, berpendirian, dan memiliki kedalaman rasa.

Menurut Halida, ibunya adalah representasi perempuan yang utuh, yang tidak harus memilih antara peran publik dan nilai pribadi.

“Ibu saya mengajarkan bahwa perempuan bisa tetap kuat tanpa kehilangan kelembutannya, bisa tetap modern tanpa meninggalkan akar budayanya,” tuturnya.

Sejumlah tokoh perempuan nasional berfoto bersama usai membacakan surat R.A. Kartini dalam pertunjukan “Tembang Alit Kartini” di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Minggu, 19 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari tribute satu abad Rahmi Hatta dalam rangka peringatan Hari Kartini 2026. (Foto : Istimewa)

Nilai inilah yang, menurut Halida, paling relevan bagi perempuan hari ini, di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali menuntut perempuan untuk ‘menjadi sesuatu’.

Padahal, menjadi diri sendiri dengan nilai yang kuat, justru adalah bentuk kekuatan.

Momen ketika Halida membacakan puisi menjadi salah satu titik paling emosional dalam pertunjukan tersebut. Bagi banyak penonton, itu bukan sekadar bagian dari rangkaian acara.

Itu adalah perjumpaan.

Perjumpaan antara seorang anak dengan nilai yang diwariskan ibunya.

Perjumpaan antara sejarah dan masa kini.

Ketika ditanya apa yang ia rasakan, Halida menjawab dengan sederhana, namun dalam.

“Ada rasa haru, tentu. Tapi lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk menyampaikan nilai—bahwa apa yang diperjuangkan perempuan-perempuan terdahulu, tidak berhenti di sana,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui momen tersebut, ia ingin menyampaikan pesan kepada perempuan, bahwa menjadi berdaya tidak selalu berarti harus terlihat kuat di luar.

Kadang, kekuatan justru hadir dalam ketenangan dan konsistensi menjalani nilai.

Dalam refleksinya, Halida juga menyinggung kembali pemikiran Kartini, tentang kebebasan berpikir dan akses pendidikan bagi perempuan. Ia mengingatkan bahwa perjuangan itu tidak lahir dari ruang yang mudah.

Kartini sadar, bahwa mungkin ia tidak akan sepenuhnya melihat hasil dari gagasannya.

Namun ia tetap menanam.

“Kartini adalah pejuang hak asasi manusia sejati. Ia mendorong perempuan untuk berpikir, belajar, dan berkontribusi bagi masyarakat. Itu yang harus kita lanjutkan,” kata Halida.

Namun ia juga memberikan penekanan penting, bahwa perubahan harus tetap berakar pada nilai.

“Apa yang sudah tidak relevan memang perlu diperbaiki, tetapi tanpa meninggalkan etika dan prinsip budaya bangsa Indonesia, lanjutnya.

Sebagai Ketua Yayasan Hatta, Halida tidak hanya menjaga warisan nama besar keluarganya, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan pelestarian nilai kebangsaan. Kiprahnya menjadi bentuk nyata bahwa nilai tidak hanya disampaikan, tetapi dijalankan.

Di Hari Kartini ini, ia memiliki harapan yang sederhana, namun kuat.

“Harapannya, semangat Kartini tidak berhenti pada peringatan. Tetapi benar-benar hidup dalam cara perempuan berpikir, bertindak, dan memberi kontribusi di masyarakat, ujarnya.

Di tengah dunia yang sering mendorong perempuan untuk bersaing, cerita tentang Rahmi Hatta justru menawarkan sudut pandang lain.

Bahwa menjadi perempuan tidak harus selalu tentang menjadi paling terlihat.

Tidak harus selalu tentang menjadi paling kuat.

Tetapi tentang menjadi bermakna.

Dan mungkin, di situlah Kartini hari ini menemukan bentuknya.

Bukan lagi sekadar nama dalam buku sejarah,

tetapi hidup

dalam perempuan yang terus menjaga nilai,

mencintai budaya,

dan memberi dampak,

dengan caranya sendiri

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....