Melihat Kisah Pak Joko, Relawan Pengatur Lalu-lintas di Jakarta
- 15 Mar 2025 04:27 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Jalan-jalan di kota Jakarta, begitu ramai, hilir mudik kendaraan kecil dan besar, roda dua hingga 10 roda, berjejal, mengisahkan kemacetan di sepanjang jalan.
Jika terjadi kepadatan, rambu lalu-lintas hanya mematung, pengamananpun tak mampu berbuat banyak. Lagi-lagi peran warga diperlukan untuk mengatur dan mencegah kemacetan agar dapat terurai.
Adalah Joko Santoso dikenal warga Alur Laut, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, sebagai pengatur lalu-lintas, ia bukan dari dinas kepolisian, maupun perhubungan, ia hanya pria tua berusia 70 tahun, namun tenaganya ia gunakan untuk mengatur jalan.
Ia abdikan dirinya untuk bekerja sebagai pengatur lalu lintas di wilayah Plumpang, tidak terasa sudah 40 tahun lamanya. Gerakan tangannya masih sigap mengawasi lalu-lintas jalan raya yang dipenuhi oleh truck Kontainer, matanya awas mengamati pergerakan lalu-lalang kendaraan.
Jerih payahnya dalam mengatur jalan, tidak dibatasi oleh nilai rupiah. Pemberian dari para pengendara ia terima dengan suka rela, demi menghidupi keluarga. Sementara, bahaya selalu mengintai pergerakan Pak Joko setiap saat.
Pak Joko bercerita, suka-suka dalam mengarungi hidup sebagai pengatur lalu-lintas. Pernah pada tahun 1990, ia mengalami musibah, terlindas kontainer yang menyebabkan tubuhnya alami luka-luka. Satu minggu lamanya Pak Joko dirawat di Rumah Sakit. Setelah sembuh Pak Joko tak kapok, ia kembali bekerja menunaikan tugas mulianya.
Menurut Pak Joko dalam sehari pendapatannya tidak menentu, jika sedang ramai bisa mencapai seratus ribu rupiah, namun jika sepi ia dengan Iklas hanya menerima kurang dari seratus ribu rupiah.
"Jika bulan puasa seperti bisa mendapat kurang dari seratus ribu karena keadaan sepi, " ujar Pak Joko.
Meski sulitnya sebagai pengatur jalan, Pak Joko hadapi dengan suja duka, ia menikmati jalan hidupnya, seperti lima jari-jemarinya yang dipenuhi oleh cincin dihiasi batu akik.
Di bulan Ramadhan, jasa sebagai pengatur jalan sangat dibutuhkan pengendara, hal ini untuk mencegah kecelakaan dan tindak kriminalitas jalan.
Meski usia tak lagi muda, lelahnya bekerja tidak lagi dirasa, di bulan Ramadhan Pak Joko tetap menjalani ibadah puasa. Tidak lagi hiraukan teriknya panas, tak lagi pikirkan lalu lalang kendaraan yang setiap saat datang menghantam, Pak Joko tetap menjalankan ibadah dengan tenang.
Tidak banyak harapan yang dimiliki Pak Joko di usia senjanya. Meski telah bekerja tanpa lelah Pak Joko hanya berharap dapat memberikan jerih payahnya untuk keluarga dan membahagiakan anak-anak nya.
Demikianlah kisah hidup seorang pengatur lalu lintas, sepintas hanya kisah usam, namun dibalik kisahnya terselip makna tentang semangat dan kerja Iklas seorang manusia yang mengabdikan dirinya demi orang banyak meski usia telah renta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....