Potret Pak Joko Pemikul Air Kehidupan

  • 09 Mar 2025 04:39 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Air adalah kehidupan, namun juga sebagai mahluk yang dapat mematikan. Dalam kehidupan, air dapat berfungsi sebagai penyeimbang alam, jika disalahgunakan justru akan merusak kehidupan. Tengoklah banjir bah yang terjadi baru-baru ini, air menjadi musibah ketika keseimbangan alam terganggu.

Sebagian sumber kebutuhan umat manusia, air juga menjadi salah satu sandaran manusia untuk mencari nafkah.

Adalah Pak Joko, pria tua kelahiran Boyolali Jawa Tengah ini, sudah merantau di Ibu Kota sejak tahun 1998, puluhan tahun silam. Ia merantau ke Ibu Kota tidak memiliki banyak pilihan dalam bekerja yakni berdagang air pikulan di Pelabuhan bersejarah Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

Sebagai manusia yang memiliki pekerjaan yang jarang sekali diminati oleh kaum milenia ini, Pak Joko tanpa ragu dan malu mendorong grobak yang diisi oleh puluhan drigen yang berisi air.

Bahunya yang kokoh dapat memanggul dua drigen air yang berat setiap drigennya mencapai hampir 50 kilogram. Jalan-jalan di sepanjang pelabuhan begitu akrab mengenal setiap langkah pak Joko, derap roda-roda gerobak yang ia dorong, menjadi saksi bisu kisah langkah pak Joko berjuang menjajakan air keliling di pesisir Ibu Kota.

Sudah 30 tahun tidak terasa Pak Joko menjalani suka duka sebagai pemanggul air keliling, di tengah teknologi yang serba canggih demi memenuhi kebutuhan pokok manusia.

"Yah suka nya semakin banyak pelanggan nya, sukanya jika musim hujan datang, jika musim panas kayak gini yah banyak yang beli, " ujar Pak Joko.

Meskipun Pak Joko tidak memiliki rumah sendiri untuk bersandar jika letih mendera, untungnya masih ada orang baik dari pelanggannya yang bersedia menempatkan Pak Joko untuk beristirahat.

Pak Joko bercerita, air yang ia dapat merupakan air pasokan dari PDAM Jaya. Menurut nya tidak selamanya air dari PDAM selalu lancar, terkadang air yang ia pasok berkurang hingga tidak ada sama sekali. Jika seperti ini, Pak Joko harus siap dikomplain pelanggannya, karena suplay air yang ia bawa terlambat dari waktu yang telah ditentukan.

"Yah kalo di PDAM sini mati kita cari yang jauh, itu kalo susah air loh, " kata Pak Joko.

Bicara penghasilan dalam sehari Pak Joko tidak menutupinya, ia mengatakan satu pikul air dihargai Rp 5.000,- satu pikul sama dengan dua drigen, jadi satu grobak ada 13 pikul, selama sehari Pak Joko sanggup membawa 7-8 grobak jadi hasil yang didapat Pak Joko dalam sehari Rp 445.000,- namun itu kotor belum untuk membayar PDAM.

Dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, sejujurnya Pak Joko mengatakan jika sedang berkeliling menjajakan air kepada pelanggannya Ia tidak berpuasa, hal ini karena beratnya beban pikulan air yang ia bawa.

"Berat, apa lagi panas kayak gini, tapi Alhamdulillah setelah selesai Ramadhan di bayar, " kata Pak Joko.

Untuk melepas kerinduan dan penat setelah bekerja sebagai pemikul air, Pak Joko sempatkan pulang kampung ketika lebaran, hasil yang ia peroleh dari memikul air lehidupan, ia berikan kepada keluarga di Kampung halaman, bentuk syukur dari mengadu nasib di pesisir Ibu Kota.

Meski harus bekerja keras, tak mengapa, asalkan keluarga menerima segala jerih payahnya yang diusahakan selama merantau di Jakarta.

Demikianlah serpihan hidup seorang manusia sebagai pekerja keras di jantung kota Jakarta. Suka-duka, jerih payah, seorang pekerja, terkadang mengingatkan kita pada sang Pencipta. Sudah seberapa bersyukur kah kita terhadap nikmat yang telah Ia berikan. Seperti Pak Joko yang selalu mensyukuri nikmat Tuhan dan menerima segalanya ketentuan Nya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....