Kisah Purnawirawan TNI Bertahan Hidup dari Kandang Bebek
- 28 Feb 2026 06:01 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di usia senja yang hampir menyentuh angka 60 tahun, Pak Purba, seorang purnawirawan TNI asal Sumatera, memilih jalan yang tak biasa untuk menikmati masa pensiunnya.
Jauh dari kata santai, ia justru menyibukkan diri di tengah bau lumpur dan keriuhan ratusan bebek di kawasan Rorotan, Jakarta Utara.
Sejak tahun 2023, atau tepatnya pasca-pandemi COVID-19, Pak Purba memutuskan untuk "banting setir" menjadi peternak bebek petelur. Baginya, diam di rumah setelah puluhan tahun mengabdi pada negara justru bisa mendatangkan penyakit.
"Cari kegiatan dan punya penghasilan, daripada diam saja buat kesehatan. Malah sebenarnya kita ini membantu ketahanan pangan, sesuai asta cita Pak Prabowo sekarang," ujar Pak Purba saat ditemui di lokasi peternakannya, Jumat 28 Februari 2026.
Beternak di pinggiran Jakarta bukanlah hal mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi Pak Purba adalah tingginya harga pakan pabrikan.
Dengan populasi sekitar 500 ekor bebek, ia harus memutar otak agar biaya operasional tidak membengkak melebihi pemasukan.
Strateginya adalah meracik pakan alternatif. Pak Purba memanfaatkan roti kedaluwarsa dan limbah kepala udang.
"Kalau pakan pabrikan, kita enggak sanggup, harganya naik turun. Jadi kita pakai roti sisa dan kepala udang. Seminggu beli kepala udang bisa habis Rp 1,2 juta. Itu pun kadang masih nombok," jelasnya.
Dari 500 ekor bebek yang dimilikinya, Pak Purba mampu memanen rata-rata 200 butir telur per hari.
Telur-telur tersebut dijual ke agen dengan harga Rp 2.300 per butir. Jika dikalkulasi, pendapatan bersih yang bisa ia bawa pulang berkisar Rp 5 juta per bulan.
"Itu rata-rata Rp 5 juta bersih, tapi ya namanya makhluk hidup, kadang produksi turun, kadang ada yang mati. Jadi sistemnya subsidi silang, untung hari ini buat nutup pakan besok," tambahnya.
Meski berternak di lahan yang sebagian besar milik pemerintah daerah (Pemda) dan pengembang swasta dengan sistem sewa lahan tahunan, Pak Purba tetap memiliki harapan kepada pemerintah setempat.
Akses jalan menuju lokasi peternakan yang masih berupa tanah merah menjadi kendala utama, terutama saat musim hujan. Ia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan material untuk perbaikan jalan.
"Kalau bisa jalan kita ini dibantulah, minimal materialnya seperti cor-coran. Tenaganya biar kita yang kerjakan atau kita kulikan orang. Karena ini kan tanah Pemda juga," harapnya.
Kisah Pak Purba menjadi potret nyata bagaimana seorang pensiunan abdi negara terus berjuang menjaga produktivitas dan asap dapur tetap mengepul di tengah kerasnya kehidupan Ibu Kota.