Pengrajin Kulit Magetan Berjualan lewat Siaran Langsung
- 17 Agt 2026 19:59 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Pengrajin Kulit Magetan Berjualan lewat Siaran Langsung
RRI. CO. ID, Jakarta – Selama bertahun-tahun, nasib pengrajin kulit di Kabupaten Magetan ditentukan oleh ramai atau sepinya jalan menuju Telaga Sarangan. Ketika wisatawan datang, sabuk dan dompet kulit laku. Ketika musim sepi, produksi ikut melambat. Pola itu kini mulai berubah di Akasia Industry, kelompok pengrajin kulit di Desa Ringinagung, Kecamatan Magetan, yang sepanjang tahun ini didampingi tim pengabdian kepada masyarakat Politeknik Negeri Madiun untuk berjualan melalui siaran langsung dan lokapasar.
Akasia Industry mempekerjakan lima belas orang dengan kapasitas produksi dua sampai lima produk per hari. Produk utamanya sabuk kulit nabati buatan tangan, dilengkapi dompet, tempat kartu, dan aksesoris kulit lainnya. Sebelum program berjalan, penjualan bertumpu pada transaksi langsung di rumah produksi dan jaringan pedagang, dengan omzet rata-rata sepuluh juta rupiah per bulan dari sekitar seratus transaksi. Akun media sosial dan toko daring sebenarnya sudah ada, tetapi dikelola seadanya tanpa jadwal maupun standar konten.
“Kami ini bisa bikin barang bagus, tapi tidak bisa menjelaskan bagusnya di mana kalau cuma lewat foto,” kata Hananta Arigio, pemimpin Akasia Industry. “Orang beli kulit itu lihat seratnya, lihat jahitannya, dipegang dulu. Kalau cuma diunggah satu foto lalu diam, ya tidak ada bedanya dengan barang pabrikan yang harganya jauh lebih murah.”
Berangkat dari persoalan itu, tim Politeknik Negeri Madiun mengajukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pengabdian Masyarakat Pemula. Kegiatan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebesar dua puluh dua juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk tahun anggaran 2026. Tim diketuai Handika Asep Kurniawan dari Program Studi Akuntansi, dengan anggota Sasmito Widi Nugroho dari Program Studi Akuntansi Perpajakan dan Dimas Nur Prakoso dari Program Studi Teknik Listrik, serta melibatkan dua mahasiswa, Zaenal Alwan Said dan Berliana Arieska Budianto.

“Yang kami perbaiki bukan produknya, karena produknya memang sudah bagus. Yang kami perbaiki cara menjualnya,” ujar Handika Asep Kurniawan. “Kerajinan kulit itu barang yang harus diyakinkan, bukan sekadar dipajang. Siaran langsung memungkinkan calon pembeli bertanya soal ukuran, bahan, dan perawatan, lalu dijawab saat itu juga. Keraguan yang biasanya membuat orang batal membeli bisa diselesaikan dalam hitungan detik.”
Bentuk bantuan yang paling kasatmata adalah studio mini siaran langsung berukuran dua kali dua meter yang dibangun di dalam rumah produksi mitra. Ruang sekecil itu diisi meja pajang produk, latar belakang, lampu, dan tripod, serta dilengkapi kamera Sony ZV-E10, mikrofon nirkabel Boya BY-V10, lampu LED Glamlight Quatro, dan perangkat penangkap gambar HDMI yang menyalurkan keluaran kamera ke komputer jinjing. Aplikasi OBS Studio dipakai sebagai penyandi siaran, menghasilkan gambar pada resolusi 720p hingga 1080p dengan laju dua puluh lima sampai tiga puluh bingkai per detik.
“Untuk barang kulit, kualitas gambar itu bukan gaya-gayaan, tapi penentu kepercayaan,” kata Dimas Nur Prakoso, anggota tim yang menangani konfigurasi perangkat dan jaringan. “Kalau kameranya seadanya, tekstur kulit nabati dan kerapian jahitan tidak kelihatan di layar penonton. Begitu detailnya terlihat jelas, penjelasan penjual jadi masuk akal dan harga yang lebih tinggi jadi wajar di mata pembeli.”
Kamera itu ternyata tidak hanya dipakai saat siaran. Mitra memanfaatkannya untuk merekam proses pengerjaan sehari-hari, mulai dari memotong lajur kulit, melubangi, menjahit, hingga menyetempel logo. Rekaman tersebut diolah menjadi konten harian yang justru menjadi penarik penonton paling kuat. Selain perangkat, tim juga menyerahkan perangkat lunak kerja berupa prosedur baku siaran tiga fase, skrip pembawa acara per kategori produk, panduan pemotretan produk, kalender promosi bulanan, dan papan pantau kinerja penjualan berbasis lembar sebar.
“Selama ini promosi jalan kalau lagi ingat saja, dan tidak pernah dihitung hasilnya,” kata Sasmito Widi Nugroho, anggota tim yang menangani manajemen promosi dan analitik. “Sekarang setiap promo ada targetnya, ada catatannya, dan ada evaluasinya. Mitra bisa melihat sendiri promo mana yang benar-benar menghasilkan pesanan dan mana yang hanya menggerus margin. Itu yang membuat kegiatan ini tidak berhenti begitu pendampingan selesai.”
Hasilnya mulai terbaca pada angka. Akun TikTok mitra tercatat memiliki 3.655 pengikut dengan 14,5 ribu tanda suka, sementara konten proses produksi memperoleh penayangan tertinggi 81 ribu, atau lebih dari dua puluh kali lipat jumlah pengikutnya. Akun Instagram mencapai 1.839 pengikut dan dipakai sebagai etalase visual. Di lokapasar, toko Shopee mitra mencatat tingkat ulasan positif 98,6 persen dan berhasil menjalankan promo kilat dengan potongan harga 49 persen, dari empat ratus lima puluh ribu rupiah menjadi dua ratus dua puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah, yang dikombinasikan dengan bebas ongkos kirim. Toko Tokopedia mitra kini memuat katalog kulit nabati dengan deskripsi yang seragam.
“Sekarang yang pesan bukan cuma orang yang lewat Sarangan,” kata Hananta Arigio. “Alamat kirimnya sudah keluar Magetan, bahkan keluar provinsi. Yang paling saya syukuri, anak-anak di workshop sekarang bisa siaran sendiri tanpa harus ditunggui tim kampus.”
Bagi mahasiswa yang terlibat, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang tidak tersedia di kelas. “Di kampus kami belajar teori pemasaran digital, tapi di sini kami berhadapan langsung dengan pemilik usaha yang uangnya benar-benar dipertaruhkan, ” kata Zaenal Alwan Said, mahasiswa Program Studi Akuntansi yang bertugas mendokumentasikan kegiatan dan merekap data kinerja. “Kami jadi tahu bahwa mengubah kebiasaan berjualan jauh lebih sulit daripada memasang alatnya.”
Capaian kegiatan ini telah dituangkan dalam artikel ilmiah pengabdian yang terbit pada KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Volume 6 Nomor 2 Tahun 2026. Sampai penyusunan laporan kemajuan pada Agustus 2026, capaian fisik kegiatan mencapai delapan puluh persen dari keseluruhan rencana, dengan tahap pendampingan dan keberlanjutan masih berjalan sampai berakhirnya masa kontrak.
“Ukuran keberhasilan kami bukan berapa banyak alat yang diserahkan, tapi apakah mitra masih siaran dan masih mengisi catatan penjualan enam bulan setelah kami pergi,” kata Handika Asep Kurniawan. “Karena itu sisa waktu kontrak kami pakai untuk memastikan prosedurnya benar-benar dipakai, bukan sekadar disimpan di map. Model pendampingan seperti ini kami harap bisa direplikasi di sentra kerajinan kulit lain di Magetan.”
Kegiatan tersebut sejalan dengan agenda Asta Cita pada penguatan kemandirian ekonomi bangsa serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada bidang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri dan inovasi, serta pengentasan kemiskinan. Bagi pengrajin kulit Magetan, artinya lebih sederhana: pendapatan mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ramainya jalan menuju telaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....