Semester I-2025, Industri Asuransi Jiwa Tunjukkan Ketahanan

  • 22 Agt 2025 18:39 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan kinerja 57 perusahaan asuransi jiwa sepanjang periode Januari–Juni 2025. Di tengah dinamika ekonomi nasional yang penuh tantangan, industri asuransi jiwa tetap mencatatkan ketahanan sekaligus memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas keuangan masyarakat.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon, menyampaikan bahwa pada semester I-2025, total pendapatan industri naik 3,6 persen menjadi Rp109 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan premi lanjutan serta hasil investasi.

"Hasil ini menegaskan relevansi asuransi jiwa sebagai pilar penting dalam perencanaan keuangan keluarga, bahkan ketika ruang konsumsi masyarakat terbatas," ujarnya.

Pendapatan premi lanjutan tumbuh 6,1 persen menjadi Rp39,66 triliun, mencerminkan komitmen nasabah menjaga kesinambungan perlindungan. Jumlah tertanggung juga meningkat signifikan 8,8 persen menjadi 123,70 juta jiwa dibandingkan semester I-2024.

"Catatan positif ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap asuransi jiwa tetap terjaga, meskipun premi bisnis baru melambat akibat tekanan daya beli. Peningkatan premi lanjutan dan jumlah tertanggung menegaskan kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi sebagai instrumen perlindungan jangka panjang," ucapnya.

Budi, menegaskan, momentum meningkatnya kesadaran masyarakat tersebut menjadi landasan bagi transformasi industri ke depan. Dengan tren surrender yang menurun, jumlah tertanggung yang bertambah, serta premi lanjutan yang menguat, asuransi semakin dipandang sebagai bagian dari strategi finansial jangka panjang.

"Industri berkomitmen memperluas perlindungan, memperkuat kualitas SDM, serta terus berkontribusi bagi stabilitas keuangan nasional," katanya.

Budi, mengungkapkan, Industri asuransi jiwa tetap menunaikan kewajibannya dengan membayarkan klaim sebesar Rp72,47 triliun kepada 5,01 juta penerima manfaat sepanjang Januari–Juni 2025. Angka ini turun 6,7 persen dibandingkan periode sama tahun lalu, terutama karena penurunan klaim Partial Withdrawal.

"Sebaliknya, klaim kesehatan justru meningkat 3,2 persen menjadi Rp12,20 triliun. Kenaikan terbesar berasal dari klaim kesehatan perorangan yang melonjak 25,5 persen menjadi Rp9,56 triliun, sedangkan klaim kesehatan kumpulan turun 37,2 persen menjadi Rp2,64 triliun," ucapnya.

Ketua Bidang Kanal Distribusi AAJI, Elin Waty, menegaskan bahwa tren kenaikan klaim kesehatan individu menjadi perhatian serius. Reformasi industri kesehatan diharapkan segera berjalan agar manfaat perlindungan dapat ditawarkan dengan nilai premi yang seimbang bagi masyarakat.

"Kinerja industri juga ditopang oleh hasil investasi yang tumbuh signifikan. Hingga Juni 2025, total hasil investasi industri asuransi jiwa tercatat Rp16,68 triliun atau meningkat 38,4 persen dibandingkan tahun lalu," katanya.

Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM AAJI, Handojo Gunawan Kusuma, menyebutkan bahwa pelaku industri melakukan adaptasi strategi investasi guna meraih hasil optimal di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kondusif.

"Hasil investasi yang tumbuh signifikan menunjukkan ketahanan industri dalam mengelola portofolio. Diversifikasi dan penerapan manajemen risiko yang tepat memastikan kepentingan pemegang polis tetap terjaga," ujarnya.

Handoyo, menegaskan, dari sisi aset, hingga Juni 2025 industri mencatat total aset Rp630,53 triliun atau naik 2,2 persen. Aset investasi tumbuh 2,3 persen menjadi Rp551,31 triliun. Penempatan investasi dilakukan pada berbagai instrumen yang diatur OJK, dengan rincian:

Surat Berharga Negara (SBN): naik 14,6% dengan porsi 40,5% atau Rp223,03 triliun. Saham: turun 13,6% dengan porsi 22,0% atau Rp121,50 triliun. Reksadana: turun 6,8% dengan porsi 12,4% atau Rp68,14 triliun. Sukuk Korporasi: naik 14,2% dengan porsi 9,7% atau Rp53,26 triliun. Deposito: turun 6,8% dengan porsi 6,1% atau Rp33,71 triliun.

"Konsistensi penempatan investasi pada instrumen SBN merupakan wujud komitmen industri kepada pemegang polis, sekaligus kontribusi nyata dalam mendukung program pembangunan nasional," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....