Adopsi AI Perusahaan Indonesia Meningkat, Arsalynk Siapkan Solusi ERP
- 01 Okt 2026 17:50 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Adopsi kecerdasan buatan (AI) di kalangan perusahaan Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Tetapi, perkembangan ini masih dihadapkan pada tantangan kesiapan digital organisasi dan kemampuan karyawan dalam memanfaatkan teknologi.
Berdasarkan studi Amazon Web Services bersama Strand Partners, tercatat sekitar 40 persen perusahaan di Indonesia telah menggunakan AI, meningkat dari 25 persen pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, laporan Lark mengenai tantangan kerja digital menunjukkan hanya 19 persen organisasi di Indonesia yang menilai tingkat kematangan digitalnya sudah tinggi.
Kesenjangan ini pun mendorong perusahaan teknologi Arsalynk mengembangkan MarkaSuite, aplikasi pengelolaan bisnis berbasis enterprise resource planning (ERP) yang ditujukan bagi perusahaan menengah.
IT Manager Arsalynk, Laode Fahmi Hidayat mengatakan, MarkaSuite dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan proyek, tim, keuangan, hingga administrasi karyawan dalam satu aplikasi.
“Keunggulannya ada pada dua asisten AI yang membuat aplikasi bisnis terasa semudah mengobrol: AI Helper yang siap menjawab pertanyaan karyawan seputar fitur dan pembaruan aplikasi selama 24 jam, dan AI Assistant Dashboard yang menyajikan gambaran kinerja dan kondisi tim kepada leader dan eksekutif hanya lewat chat,” kata Laode di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, AI Helper ditujukan bagi seluruh pengguna, mulai dari pemilik usaha dan staf sumber daya manusia (HR) hingga karyawan lapangan dan pegawai baru.
“Fitur ini dapat memberikan panduan penggunaan aplikasi untuk kebutuhan operasional sehari-hari, seperti pengajuan cuti maupun pengisian laporan kerja,” ucap Laode.
Dengan panduan tersebut, karyawan diharapkan dapat mempelajari sistem secara mandiri tanpa selalu bergantung pada pelatihan langsung. Di sisi lain, tim HR dapat mengurangi waktu yang digunakan untuk menjelaskan prosedur serupa secara berulang.
Sementara AI Assistant Dashboard menyasar pemilik usaha, direktur, manajer, dan pemimpin proyek.
Menurut Laode, fitur ini memungkinkan pengguna meminta ringkasan perkembangan pekerjaan, pencapaian indikator kinerja utama atau key performance indicator (KPI), serta gambaran kondisi tim melalui pertanyaan dalam bahasa sehari-hari.
“Kekuatan MarkaSuite ada pada cara kedua asisten ini bekerja dalam satu alur. Semakin nyaman karyawan memakai aplikasi, semakin rutin mereka mencatat pekerjaan. Semakin lengkap catatan itu, semakin dapat diandalkan jawaban AI Assistant Dashboard bagi leader,” tuturnya.
Laode menambahkan, pengembangan MarkaSuite juga mempertimbangkan kebutuhan perusahaan menengah yang ingin menerapkan teknologi, tetapi belum memiliki sumber daya teknologi informasi (TI) yang memadai untuk mendampingi seluruh proses adaptasi.
“Banyak perusahaan menengah ingin bergerak cepat dengan teknologi, tapi orang-orangnya belum tentu siap, dan tidak semua punya tim IT untuk mendampingi. Kami membangun MarkaSuite supaya aplikasi bisnis terasa semudah mengobrol. Karyawan yang bingung tinggal bertanya, Leader yang butuh gambaran juga tinggal bertanya,” ujarnya.
Laode mengatakan, MarkaSuite direncanakan akan diluncurkan untuk publik pada akhir 2026. Aplikasi tersebut dirancang agar pengguna dapat mengakses informasi dan menjalankan fungsi bisnis tanpa harus memiliki keahlian teknis khusus.
“Cukup ketik pertanyaan dengan bahasa sehari-hari. Waktu yang tadinya habis untuk mencari informasi dan menjelaskan hal yang sama berulang kali bisa dipakai untuk menjalankan bisnis,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....