Standardisasi Biomassa dan Rantai Pasok Jadi Kunci Keberhasilan Co-firing PLTU

  • 28 Jul 2026 07:50 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Keberhasilan program co-firing biomassa di PLTU ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, standardisasi kualitas, infrastruktur pengolahan, dan efisiensi rantai pasok.
  • PLN EPI menekankan pentingnya penguatan ekosistem biomassa untuk menjaga kontinuitas pasokan dan mendukung target dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional.
  • Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengidentifikasi standardisasi kualitas biomassa sebagai faktor kunci dalam kesuksesan implementasi program co-firing.

RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan bahwa keberhasilan program co-firing biomassa di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, tetapi juga bergantung pada standardisasi kualitas biomassa, infrastruktur pengolahan, dan rantai pasok yang efisien.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan penguatan ekosistem biomassa menjadi faktor penting untuk menjaga kontinuitas pasokan sekaligus mendukung target dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional.

“Peningkatan volume pasokan harus dibarengi dengan penguatan ekosistem biomassa secara menyeluruh. Tantangan utama tidak hanya pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga kapasitas pengolahan, standardisasi kualitas, penyimpanan, serta sistem distribusi yang efisien,” kata Hokkop dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries: Engineering and Innovation for Sustainable Industrial Growth Symposium 2026 di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.

Forum yang digelar Indonesia Research Institute itu mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor kehutanan, industri, energi, akademisi, dan lembaga riset untuk membahas pengembangan biomassa berbasis kayu dan inovasi sistem penanganan material.

Hokkop menjelaskan, PLN EPI dibentuk untuk menjamin pasokan energi primer bagi sekitar 200 unit PLTU di 52 lokasi, sekitar 200 unit PLTG, PLTGU, dan PLTMG, serta hampir 800 unit PLTD di seluruh Indonesia.

Menurutnya, sekitar 90 persen pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil sehingga pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung agenda transisi energi.

“Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions,” ujarnya.

Ia menegaskan seluruh biomassa yang dimanfaatkan PLN EPI berasal dari residu industri kehutanan, perkebunan, dan pertanian, bukan dari aktivitas penebangan hutan maupun deforestasi.

Menurut Hokkop, pemanfaatan residu tersebut tidak hanya menyediakan sumber energi alternatif, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi limbah industri tanpa mengorbankan kelestarian hutan. Melalui proses pengolahan dan pengendalian mutu, biomassa juga dapat memenuhi spesifikasi teknis bahan bakar pembangkit sehingga mampu menggantikan sebagian konsumsi batu bara.

Sepanjang 2025, PLN EPI memasok sekitar 2,35 juta ton biomassa yang berkontribusi menurunkan emisi sekitar 2,72 juta ton CO₂e. Volume pasokan itu ditargetkan meningkat menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan mencapai 4,07 juta ton pada 2027 untuk mendukung implementasi co-firing di 52 PLTU.

Secara kumulatif selama periode 2023-2026, PLN EPI telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton. Pasokan tersebut didominasi biomassa berbasis kayu, yakni sawdust sebesar 54,6 persen dan woodchip sebesar 22,4 persen.

Untuk memperkuat rantai pasok, PLN EPI mengembangkan model Spoke-Hub yang mengintegrasikan titik pengumpulan bahan baku, fasilitas produksi, hingga pusat pengolahan, pencampuran, penyimpanan, dan pengendalian mutu sebelum biomassa didistribusikan ke pembangkit.

“Model tersebut juga didukung Marketplace Biomassa yang menghubungkan pemasok dengan kebutuhan biomassa di setiap pembangkit,” katanya.

Saat ini PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis dengan kapasitas masing-masing 10 ton per jam. Perusahaan juga berencana memperluas jaringan hub biomassa di Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, hingga Suralaya.

Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub biomassa di berbagai wilayah Indonesia melalui investasi perusahaan maupun kerja sama dengan mitra strategis guna memperkuat kualitas, kontinuitas pasokan, dan efisiensi logistik biomassa untuk pembangkit listrik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....