Fajar Baru ”Silver Economy” di tengah Melandainya Demografi

  • 05 Jul 2026 18:08 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia tengah berada di persimpangan jalan, perubahan struktural populasi yang masif. Narasi ”Bonus Demografi” yang selama ini diagung-agungkan, sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional, mulai mendekati titik jenuh. Fenomena penuaan penduduk (ageing population), kini menjadi realitas yang tidak dapat dihindari, seiring melandainya angka kelahiran total, dan meningkatnya usia harapan hidup.

Kondisi makro itu menuntut perombakan radikal, atas sudut pandang terhadap kelompok lanjut usia (lansia). Kaum senior tidak boleh lagi diposisikan secara pasif, sebagai beban ketergantungan ekonomi atau beban fiskal negara. Sebaliknya, momentum transisi itu merupakan fajar baru, bagi lahirnya kekuatan ekonomi baru, yang dikenal sebagai silver economy atau ekonomi perak.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk lansia berusia 60 tahun ke atas di Indonesia, telah menembus angka 11,97 persen. Sesuai standar demografi global, suatu negara resmi dikategorikan berstruktur tua, jika rasionya melampaui ambang batas 10 persen.

Tren menua itu dipicu oleh peningkatan Angka Harapan Hidup (UHH) nasional, yang kini menyentuh rata-rata 74,15 tahun, berbanding terbalik dengan angka kelahiran total (Total Fertility Rate), yang melandai ke angka 2,13. Pergeseran itu otomatis menaikkan rasio ketergantungan lansia. Jika Indonesia tetap terjebak dalam pola pikir konvensional, fenomena itu akan memicu penyusutan produktivitas akibat menciutnya angkatan kerja muda.

Direktur Utama Mandiri Taspen, Panji Irawan, menilai fenomena itu harus disikapi sebagai peluang pasar baru, bukan sebagai beban makroekonomi. Lansia modern saat ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda, dari generasi pendahulunya, yakni cenderung lebih mandiri, memiliki akumulasi aset finansial yang mapan hasil tabungan masa mudanya, serta adaptif terhadap teknologi.

"Kelompok usia senior saat ini adalah pasar riil yang sangat masif. Melalui konsep penuaan aktif (active ageing), kita tidak boleh memaksa lansia berhenti total dari aktivitas sosial-ekonomi, hanya karena melewati batas usia pensiun formal yang kaku," ujar Panji, Sabtu, 4 Juli 2026.

"Kami di Mandiri Taspen melihat pentingnya mendukung kemandirian hidup, dan produktivitas lanjutan mereka, baik sebagai mentor maupun wirausahawan. Agar mereka bertransformasi dari konsumen jaminan sosial, menjadi aktor ekonomi yang berdaya," tambah Panji.

Dinamika pasar baru itu, lanjutnya, membuka keran investasi segar, dan menghidupkan sektor UMKM, yang jeli menangkap kebutuhan populasi senior. "Potensinya sangat besar, mengingat jumlah mereka diproyeksikan terus merangkak naik, menuju estimasi 65,82 jiwa, pada momentum Indonesia Emas 2045," katanya.

"Di tengah menyempitnya proporsi penduduk usia muda, silver economy hadir sebagai penyelamat utama kesejahteraan para pensiunan. Perkembangan itu memicu ledakan ekosistem bisnis baru di sektor domestik, mulai dari industri teknologi pendukung kesehatan (health-tech), layanan pariwisata ramah lansia, produk nutrisi spesifik, hingga inovasi hunian terpadu (senior living)," sambungnya.

Panji menyatakan, menurunnya pertumbuhan demografi, bukanlah sebuah lonceng kematian bagi perekonomian Indonesia. Melalui penguatan silver economy, Indonesia sedang mengubah tantangan struktural, menjadi sebuah lompatan peradaban baru.

"Menghargai dan memberdayakan para senior di hari tua, bukan lagi sekadar urusan moral kemanusiaan. Melainkan sebuah strategi ekonomi yang cerdas, untuk memastikan Indonesia tetap tumbuh berkelanjutan secara inklusif," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....