Hospitality Banyak Serap Tenaga Kerja, Spesifikasi Lulusan Perlu Ditingkatkan

  • 05 Mei 2026 17:45 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Seiring dengan pemulihan total industri pariwisata pasca-pandemi, sektor hospitality kini menghadapi babak baru: Digitalization & Personalized Experience. Berdasarkan data World Travel & Tourism Council (WTTC), sektor perjalanan dan pariwisata diproyeksikan akan menyerap lebih dari 126 juta tenaga kerja baru secara global dalam dekade ini.

Di Indonesia sendiri, kebutuhan akan talenta yang memiliki hybrid skills—perpaduan antara hospitality excellence dan kemahiran teknologi—meningkat tajam sebesar 35% dibandingkan tahun sebelumnya. Seiring dengan perubahan pesat di industri hospitality yang kini semakin dipengaruhi oleh teknologi, gaya hidup, dan kebutuhan pengalaman pelanggan, permintaan ini menjadi peluang nyata bagi generasi muda.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industry ini, Praktisi Perhotelan, Eduard Rudolf Pangkerego menilai selama ini lembaga Pendidikan sudah memadai dalam mensuplai SDM di bidang tersebut. Namun yang kurang adalah talent yang lebih spesifik lagi dalam skill worker nya.

“Lembaga pendidikan agar mempertajam atau memperbanyak lagi tenaga-tenaga spesialis, karena talent spesifikasi ini yang sangat penting. Dimana kedepannya tenaga spesialis dengan skill yang dimilikinya akan memimpin untuk kemajuan bidang yang digelutinya,” ujar Eduard yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Artotel Group, Selasa, 5 Mei 2026.

Ia menambahkan, tenaga spesialisasi diperlukan agar SDM yang dihasilkan memiliki daya saing lebih, mengingat saat ini persaingan cukup ketat. Eduard mencontohkan, keberadaan adanya Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) salah satunya mampu menghasilkan SDM yang siap kerja.

Tingginya kebutuhan akan SDM di bidang hospitality telah direspon Lembaga Pendidikan dengan menyiapkan kurikulum yang adaptif dengan industry. Mulai dari perkuliahan, praktek hingga magang di industri di perhotelan dan restoran.

“Tiga hal yang kami persiapkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang unggul dan terampil. Pertama adalah praktek dan magang, kedua tenaga pendidik yang mayoritas berasal dari praktisi serta menghadirkan industry untuk berpartisipasi dalam memberikan pelatihan dan akses ke dalam industry mereka,” kata Prof. Gatot Soepriyanto, Direktur Kampus BINUS @Bekasi.

Menurutnya, hospitality merupakan industri yang terus tumbuh berkembang, untuk itu ciri khas Indonesia harus dimunculkan saat praktek. Diantaranya belajar kearifan local dan keanekaragaman di Indonesia yang kemudian ditampilkan.

“Yang kedua dalam konteks project Jadi mereka ada project biasanya kalau ujian di sini soalnya langsung praktek dan project, nah project ini biasanya menampilkan bahasan tertentu baik dari sisi Indonesia maupun dari sisi bidang-bidang di luar negeri,” ucapnya.

Keterhubungan dengan ekosistem industri ini mencerminkan luasnya peluang karir yang dapat diakses oleh lulusan, mulai dari hotel dan resort internasional, luxury service, hingga sektor food & beverage dan entrepreneurship hospitality yang terus berkembang. Paparan terhadap standar global ini juga menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa, sehingga mereka tidak hanya memahami operasional, tetapi juga ekspektasi industri kelas dunia, termasuk dalam penerapan sustainability, digital innovation, dan customer experience yang semakin kompleks.

Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism, BINUS University, Dr. Yanti, S.Kom., MM menyampaikan bahwa fokus utama pendidikan hospitality saat ini adalah memastikan lulusan memiliki kesiapan menyeluruh terhadap kebutuhan industri.

“Industri hospitality saat ini tidak hanya berubah, tetapi juga berevolusi dengan standar baru, termasuk sustainability. Kami melalui Program Hotel Management (HM) dan Business Hotel Management (BHM), menyiapkan mahasiswa agar tidak hanya siap masuk ke dunia kerja, tetapi juga siap memahami arah industri dan berkontribusi secara relevan di dalamnya,” ujarnya.

Kombinasi antara service excellence, business mindset, digital capability, dan sustainability awareness menjadi pondasi utama dalam proses pembelajaran. “Kami ingin lulusan tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki perspektif strategis dan tanggung jawab terhadap masa depan industri yang lebih berkelanjutan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....