Harga Plastik Naik 50%, Pedagang Pasar Kian Terjepit

  • 07 Apr 2026 08:18 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Harga plastik naik 30–50 persen dalam dua pekan terakhir.
  • Gangguan pasokan bahan baku dipicu konflik di Timur Tengah.
  • Pedagang alami penurunan omzet hingga 30 persen.

RRI.CO.ID, Jakarta – Lonjakan harga plastik di pasar tradisional memicu tekanan baru bagi pedagang kecil. Kenaikan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dipicu gangguan pasokan global hingga persoalan produksi di tingkat pabrik, kata pedagang.

Kenaikan harga plastik kini menjadi persoalan serius di pasar tradisional Jakarta. Komoditas yang selama ini dianggap pelengkap justru berubah menjadi beban biaya yang signifikan bagi pedagang.

Berdasarkan pantauan di Pasar Kalibaru, hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan. Mulai dari plastik polos hingga bermerek, lonjakan harga terjadi sejak dua minggu sebelum Ramadan dan terus meningkat hingga awal April.

Sejumlah pedagang mengungkapkan kenaikan harga cukup drastis. Plastik tomat misalnya naik dari Rp34.000 menjadi Rp52.000 per kilogram, sementara plastik tiger melonjak dari Rp60.000 ke kisaran Rp85.000 hingga Rp93.000 per ikat.

Pedagang plastik, Nando (48), bilang gangguan pasokan menjadi penyebab utama kenaikan harga. “Informasi dari pabrik, mesin ada yang mati dan bahan baku susah didapat. Pasokan minyak sebagai bahan dasar plastik juga terganggu karena masalah di Selat Hormuz. Bahkan sales yang datang sekarang tidak berani menjanjikan stok barang, gudang banyak yang kosong,” kata Nando kepada RRI Jakarta, Senin, 6 April 2026.

Ia menambahkan, ketidakpastian distribusi membuat stok di tingkat gudang menipis. “Sales sekarang tidak berani menjanjikan barang, banyak gudang kosong,” ucapnya.

Dampak kenaikan harga ini langsung terasa pada pendapatan pedagang. Omzet mereka dilaporkan turun antara 20 hingga 30 persen karena konsumen mulai mengurangi pembelian.

Pedagang lain, Baron, menilai plastik tetap menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan. “Semua pedagang komplain, ‘plastik mahal banget’. Tapi kalau tidak pakai plastik mau pakai apa?” ucapnya.

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengakui keterbatasan pemerintah daerah dalam mengendalikan harga plastik. “Kalau plastik, jujur terus terang Pemerintah DKI Jakarta sebisa mungkin menahan itu (kenaikan harga),” ujar Pramono, Selasa dikutip kantor berita Antara.

Meski demikian, ia memastikan pemerintah siap menghadapi dampak lanjutan kenaikan harga. “Dalam kondisi seperti ini ya mau tidak mau, suka tidak suka kita semua harus bersama-sama menghadapi persoalan kenaikan ini,” ucapnya.

Pramono juga menegaskan bahwa harga kebutuhan pokok lain seperti beras, telur, dan daging masih stabil. Pemerintah, kata dia, akan melakukan intervensi pasar jika terjadi lonjakan harga yang tidak wajar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....