Ritual Ruwat Rawat Hutan, Harmoni Doa dan Musik Nusantara
- 30 Agt 2026 15:36 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Suasana magis menyelimuti Hutan Universitas Indonesia pada Sabtu pagi, 29 Agustus 2026, saat digelar Wayangan Ruwat Rawat Hutan. Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan dan kelestarian hutan kepada Sang Pencipta. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Komunitas Makara, Direktorat Kebudayaan UI, MPR RI, Urban Spiritual Indonesia, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI.
Sebelum pertunjukan wayang dimulai, Ki Mugi Yusuf Raharjo memimpin ritual ruwat rawat hutan. Suasana hening di bawah pepohonan semakin terasa ketika Swara SeadaNya menghadirkan musik etnik sebagai bagian dari rangkaian ritus. Lima personelnya, yakni Asep Rachman Muchlas, Theressa Rida, Indonesiana Ayuningtyas Wicaksono, Bay Guitaro, dan Ganeshauman Taqwa Lumakso, tampil dengan penuh konsentrasi di kawasan Makara Art Center UI.

Baca Juga : Dukung Sepak Bola Anak, YKK AKFC dan Real Madrid Foundation Gelar Clinic
Baca Juga : Liburan Hemat saat High Season, Simak Tujuh Tips Ini
Gesekan biola Bay Guitaro membuka alunan musik yang kemudian berpadu dengan celempung yang dimainkan Asep Rachman Muchlas. Sementara itu, Theressa Rida menghadirkan suara kecapi yang lembut dan dalam. Perpaduan instrumen tersebut membangun suasana hening sekaligus khidmat, seolah mengajak para peserta untuk lebih dekat dengan alam dan merasakan denyut kehidupan hutan.
Nuansa ritual semakin kuat melalui gerak tari Indonesiana Ayuningtyas Wicaksono dan Ganeshauman Taqwa Lumakso yang terinspirasi dari beragam gerak tari Nusantara. Musik dan gerak tubuh menjadi satu kesatuan yang mengiringi doa dan mantra Ki Mugi Yusuf Raharjo. Dalam suasana yang tenang, bunyi instrumen etnik berpadu dengan rapalan doa, menghadirkan ruang kontemplasi tentang hubungan manusia dengan alam serta pentingnya menjaga hutan.

Baca Juga: Tips Hemat Liburan ke Luar Negeri, Tetap Seru dan Nyaman
Puncak ritual berlangsung dalam suasana hening tanpa tepuk tangan maupun sorak-sorai. Kesederhanaan musik, gerak, doa, dan alam justru menjadi kekuatan utama Ruwat Rawat Hutan. Melalui kegiatan ini, Ki Mugi Yusuf Raharjo dan Swara SeadaNya menunjukkan bahwa pelestarian alam tidak hanya dapat disuarakan melalui kampanye, tetapi juga melalui seni, doa, dan perenungan yang mengajak manusia kembali menyadari tanggung jawabnya terhadap bumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....