3 Kunci Jadi Penari Profesional, Bukan Sekadar Viral
- 02 Jul 2026 08:41 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Menjadi penari profesional tidak cukup hanya mengandalkan popularitas di media sosial atau penampilan yang viral. Maestro Penari Tradisional sekaligus Pimpinan Sanggar Wijaya Jakarta, Abah Maulana, menegaskan bahwa kualitas seorang penari dibangun melalui latihan, evaluasi, disiplin, serta pembentukan karakter yang berlangsung secara berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Abah Maulana saat menjadi narasumber dalam acara siaran radio bertajuk "Apresiasi Budaya Sunda" di 92,8 FM Pro4 RRI Jakarta. Menurutnya, proses evaluasi menjadi bagian penting untuk meningkatkan kemampuan teknis sekaligus membentuk mental dan etika seorang seniman.
Di balik penampilan yang memukau, ada latihan dan evaluasi yang dilakukan berulang kali. Proses panjang inilah yang membentuk penari profesional sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup. Bagaimana caranya?

| Baca juga: Pelestarian Akar Budaya Melalui Sanggar Tari |
Berikut 3 Kunci Jadi Penari Profesional, Bukan Sekadar Viral:
1. Evaluasi Membentuk Penari Menjadi Lebih Berkualitas
Abah Maulana mengatakan evaluasi bukan sekadar mencari kesalahan setelah pementasan berlangsung. Proses tersebut menjadi sarana pembelajaran agar setiap penampilan berikutnya dapat dilakukan dengan kualitas yang lebih baik.
"Evaluasi harus dipandang sebagai sarana pembelajaran yang berkelanjutan karena setiap penampilan selalu menyisakan ruang untuk diperbaiki," ujar Abah Maulana.
Ia menjelaskan setiap penari di Sanggar Wijaya selalu mengikuti sesi evaluasi bersama pelatih setelah latihan maupun pementasan selesai. Evaluasi dilakukan secara objektif agar setiap anggota memahami kelebihan sekaligus kekurangan yang masih harus diperbaiki.
Aspek yang dinilai meliputi ketepatan gerak, ekspresi wajah, kekompakan antarpenari, penguasaan panggung, hingga pemahaman terhadap filosofi tari Sunda. Menurutnya, seluruh unsur tersebut sama pentingnya dalam membentuk penari yang profesional.
"Penari yang mampu menerima masukan dengan ikhlas justru akan berkembang lebih cepat dibandingkan mereka yang merasa dirinya sudah paling baik," ucapnya.
Evaluasi juga membantu penari membangun kebiasaan belajar sepanjang karier berkesenian. Dengan cara tersebut, peningkatan kualitas berlangsung secara konsisten dan tidak berhenti setelah memperoleh pengalaman tampil.
2. Disiplin dan Karakter Menjadi Modal Utama Penari Profesional
Abah Maulana menilai kemampuan teknik tidak akan cukup apabila tidak diimbangi karakter yang baik. Penari profesional harus memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap rendah hati selama menjalani proses berkesenian.
Menurutnya, seni tari tradisional bukan hanya menyajikan rangkaian gerakan yang indah. Di dalamnya terdapat nilai kesopanan, tata krama, penghormatan kepada leluhur, serta kecintaan terhadap budaya bangsa.
"Seorang penari profesional harus mampu menjaga sikap baik di dalam maupun di luar panggung karena membawa nama sanggar, guru, serta kebudayaan daerah yang diwakilinya," kata Abah Maulana.
Ia menambahkan karakter yang baik akan membuat seorang penari dipercaya membawa nama daerah maupun komunitas seni dalam berbagai kesempatan. Hal tersebut menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang seniman.
Selain itu, penari juga dituntut memahami makna setiap tarian yang dibawakan. Pemahaman terhadap nilai budaya dinilai akan memperkuat penghayatan sehingga pertunjukan tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki pesan budaya yang utuh.
3. Media Sosial Perlu Diimbangi Latihan dan Pelestarian Budaya
Di tengah perkembangan media digital, Abah Maulana mengakui media sosial dapat menjadi sarana promosi yang efektif bagi para penari muda. Namun, ia mengingatkan bahwa popularitas tidak dapat menggantikan kualitas yang dibangun melalui proses latihan.
"Menjadi penari profesional tidak bisa dicapai hanya melalui popularitas di media sosial. Ketenaran akan datang dan pergi, sedangkan kualitas, etika, serta karakter akan terus melekat sepanjang perjalanan seorang seniman," ujarnya.
Ia mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan karya seni kepada masyarakat yang lebih luas. Akan tetapi, latihan rutin, pembelajaran budaya, serta evaluasi tetap harus menjadi prioritas utama.
Di Indonesia, regenerasi penari tradisional dinilai masih menghadapi tantangan besar akibat rendahnya minat generasi muda, pengaruh budaya populer global, serta terbatasnya fasilitas pembelajaran. Kajian Institut Seni Budaya Indonesia Aceh atau ISBI Aceh pada lamannya yang kami akses pada Kamis, 2 Juli 2026 menyebut kondisi tersebut membutuhkan dukungan pendidikan budaya, komunitas seni, dan pemanfaatan media digital agar tari tradisional tetap diminati oleh generasi muda.
ISBI Aceh juga menilai inovasi melalui media digital dapat menjadi peluang memperkenalkan tari tradisional kepada generasi muda. Namun, pelestarian budaya tetap harus bertumpu pada proses belajar yang berkelanjutan agar kualitas seni tidak tergeser oleh tren sesaat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....