Dampak Kerusakan Lingkungan dan Krisis Ekologi di tanah Batak
- 10 Jun 2026 13:37 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta: Isu kerusakan lingkungan dan krisis ekologi yang terjadi di kawasan Tanah Batak menjadi perhatian serius dalam dialog budaya Apresiasi Budaya Batak yang disiarkan Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 8 Juni 2026. Dipandu host Dermawan Ismail, acara tersebut menghadirkan narasumber Drs. Maruap Siahaan, M.B.A., Ketua Dewan Pembina BATAK CENTER, melalui sambungan telepon.
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat namun penuh keprihatinan itu, Maruap menegaskan bahwa kerusakan alam yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan budaya dan kehidupan masyarakat Batak.
Menurut Maruap Siahaan, berbagai persoalan ekologis seperti berkurangnya tutupan hutan, pencemaran sumber air, longsor, banjir, hingga menurunnya kualitas lingkungan di kawasan Danau Toba harus dipandang sebagai masalah bersama. Ia menjelaskan bahwa alam dalam pandangan masyarakat Batak bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi bagian dari identitas dan warisan leluhur yang memiliki nilai spiritual serta sosial yang tinggi.
Ketika hutan rusak dan sumber daya alam dieksploitasi tanpa kendali, yang hilang bukan hanya keseimbangan ekosistem, tetapi juga ruang hidup masyarakat adat yang selama berabad-abad membangun peradaban di atas harmoni dengan alam.
Lebih lanjut, Maruap menyoroti bahwa dampak krisis ekologi kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai wilayah Tanah Batak. Perubahan pola cuaca, berkurangnya produktivitas pertanian, meningkatnya risiko bencana, serta menurunnya kualitas sumber air menjadi tantangan yang semakin nyata.
Ia mengingatkan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, generasi muda Batak di masa depan akan mewarisi lingkungan yang jauh lebih rentan dibandingkan yang diterima dari para leluhur. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk mengubah pola pembangunan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Dalam dialog tersebut, Ketua Dewan Pembina BATAK CENTER itu juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh adat, akademisi, pelaku usaha hingga generasi muda untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan. Menurutnya, nilai-nilai budaya Batak seperti gotong royong, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap tanah leluhur dapat menjadi fondasi penting dalam upaya menjaga kelestarian alam.
Ia menilai pembangunan yang baik harus mampu menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan agar kesejahteraan masyarakat dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Menutup perbincangan, Maruap Siahaan menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan di Tanah Batak merupakan tanggung jawab moral seluruh anak bangsa, khususnya masyarakat Batak di mana pun berada. Ia berharap semangat marsipature hutanabe atau membangun kampung halaman dapat diwujudkan melalui aksi nyata menjaga hutan, air, tanah, dan seluruh kekayaan alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Dialog budaya tersebut mendapat apresiasi dari para pendengar karena menghadirkan refleksi mendalam bahwa menjaga lingkungan sesungguhnya adalah menjaga masa depan budaya, identitas, dan keberlanjutan Tanah Batak itu sendiri
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....