Pancasila Sublimasi dan Kristalisasi
- 02 Jun 2026 13:46 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta - Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan hasil sublimasi dan kristalisasi nilai-nilai luhur yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia sejak lama. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si., Anggota Intelektual Think Tank BATAK CENTER, saat menjadi narasumber melalui sambungan telepon dalam acara Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta yang dipandu host Dermawan Ismail, Senin, 1 Juni 2026.
Menurutnya, Pancasila lahir dari proses panjang perenungan para pendiri bangsa yang menggali berbagai nilai budaya, adat istiadat, serta kearifan lokal Nusantara hingga menjadi satu kesatuan falsafah yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk.
Dalam pemaparannya, Antonius menjelaskan bahwa istilah sublimasi menggambarkan proses pengangkatan nilai-nilai budaya lokal ke tingkat yang lebih universal dan dapat diterima oleh seluruh elemen bangsa. Sementara kristalisasi berarti penyaringan berbagai pengalaman sejarah, tradisi, dan pandangan hidup masyarakat Indonesia hingga membentuk lima sila yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menegaskan bahwa nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial sejatinya telah hidup dalam berbagai budaya daerah, termasuk budaya Batak yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, penghormatan terhadap sesama, dan semangat gotong royong.
Lebih lanjut, Antonius menilai bahwa kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya menjadi titik temu di tengah keberagaman. Menurutnya, para pendiri bangsa berhasil merumuskan Pancasila sebagai rumah besar yang mampu menampung perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Karena itu, Pancasila tidak boleh dipahami sebagai dokumen sejarah semata, melainkan harus menjadi ideologi yang hidup dan terus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus tercermin dalam perilaku masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang publik dan dunia digital.
Dalam konteks kekinian, Antonius mengingatkan bahwa arus globalisasi dan perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi bangsa Indonesia. Berbagai pengaruh budaya luar yang masuk secara cepat dapat membawa dampak positif maupun negatif. Oleh sebab itu, Pancasila harus dijadikan filter moral dan budaya agar masyarakat tetap mampu menyerap kemajuan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa.
"Generasi muda memiliki peran strategis untuk menjaga relevansi Pancasila dengan mengimplementasikan nilai toleransi, gotong royong, serta penghormatan terhadap keberagaman dalam kehidupan nyata maupun di media sosial," ucap Antonius menegaskan.
Menutup perbincangan, Antonius Dieben Robinson Manurung mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memaknai Hari Lahir Pancasila sebagai momentum memperkuat kesadaran kebangsaan. Menurutnya, Pancasila adalah warisan terbesar para pendiri bangsa yang telah terbukti menjadi perekat persatuan Indonesia selama puluhan tahun.
"Melalui pemahaman bahwa Pancasila merupakan sublimasi dan kristalisasi nilai-nilai budaya Nusantara, masyarakat diharapkan semakin bangga terhadap identitas bangsa sekaligus terus menjaga harmoni dalam keberagaman demi mewujudkan Indonesia yang adil, maju, dan beradab," ujar Antonius.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....