Merawat Budaya di Era Digital dan Tantangan Generasi Now

  • 05 Jun 2026 18:34 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pernahkah Anda membayangkan anak-anak muda zaman sekarang, yang begitu akrab dengan gawai dan tren global, tiba-tiba asyik nongkrong di pinggir sawah sambil menikmati kuliner lokal? Pemandangan kontras yang unik ini justru menjadi simbol nyata bagaimana tradisi bisa tampil keren tanpa kehilangan relevansinya di era digital. Upaya menjembatani warisan leluhur dengan gaya hidup generasi masa kini menjadi pembahasan hangat dalam program siaran berjaringan nasional "Suara Budaya Nusantara" di RRI Net, pada Jumat 05 Juni 2026.

“Momentum tahun 2026 ini menjadi sejarah baru karena Dinas Kebudayaan NTB resmi berdiri sendiri sebagai instansi mandiri, yang menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah untuk merawat jati diri masyarakat dari ujung Ampenan di Lombok hingga Sape di Pulau Sumbawa,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan NTB yang baru menjabat, Muhamad Ihwan, S.Sos., M.Si., saat hadir sebagai narasumber. Ihwan menegaskan bahwa kebudayaan sama sekali bukan tentang romantisme masa lalu yang berdebu, melainkan sebuah fondasi kokoh untuk masa kini sekaligus kompas utama yang menentukan masa depan cerah generasi muda.

“Budaya adalah akar yang menjaga orisinalitas kita sebagai Gen Z di tengah gempuran arus globalisasi yang serba cepat, dan bagi saya, knowledge and passion must be together,” ungkap Puteri Remaja Indonesia NTB Kebudayaan 2026, Intan Fatiha Parhan, yang juga menjadi narasumber lintas generasi dalam dialog tersebut. Gadis yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA ini mengajak teman-teman sebayanya untuk membumikan adat lewat aksi sederhana sehari-hari, mulai dari bangga memakai kain wastra lokal, bikin konten video kreatif di media sosial, hingga melestarikan tradisi berkumpul menyantap kuliner lokal (bekele) plecing di area persawahan.

Tantangan terbesar yang dihadapi dunia kebudayaan saat ini memang terletak pada cara mengemas nilai-nilai luhur dari 12 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) agar dilirik anak muda. Warisan seperti tradisi lisan, permainan rakyat, busana adat Rimpu yang sarat nilai kesopanan, hingga keunikan logat daerah harus bertransformasi agar tidak punah. Merespons tantangan tersebut, Dinas Kebudayaan NTB langsung bergerak cepat menggandeng Kominfotik NTB untuk membangun portal kebudayaan digital yang mengintegrasikan seluruh database adat agar bisa diakses secara infografis dan sinematik oleh publik global.

Menjelang akhir sesi, Muhamad Ihwan menitipkan pesan mendalam agar generasi muda tidak perlu merasa malu menunjukkan identitas kultural mereka, termasuk mempertahankan dialek atau logat daerah yang menjadi indikasi geografis unik setiap individu. Sinergi yang kuat antara kebijakan strategis pemerintah dan aksi nyata dari para duta kebudayaan diharapkan mampu menyulap potensi tradisi ini menjadi pilar ekonomi kebudayaan yang menyejahterakan masyarakat luas.

Diskusi yang dipandu secara dinamis oleh Jo Adithya dari RRI Pro 4 Jakarta dan Dika Swara dari RRI Pro 4 Mataram ini berjalan sangat interaktif. Tepat sebelum siaran memasuki menit ke-35, obrolan seru tersebut dijeda sejenak untuk memutarkan sebuah lagu manis dari Jakarta. Setelah jeda lagu selesai, kedua host langsung bersiap membuka lini interaktif bagi para pendengar di seluruh pelosok Nusantara yang ingin ikut menyumbangkan ide-ide segar mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....