Semangat Gotong Royong Batak Hidup Kuat di Momen Idul Adha

  • 26 Mei 2026 14:20 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Semangat gotong royong masyarakat Batak kembali menjadi obrolan di radio menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Tradisi saling membantu yang dikenal dalam budaya Batak tidak hanya hidup dalam acara adat, tetapi juga terasa kuat dalam pelaksanaan ibadah kurban di tengah masyarakat lintas agama.

Dalam program siaran dialog Apresiasi Budaya Batak di radio 92,8 Pro 4 RRI Jakarta edisi Senin, 25 Mei 2026, Herman Adil Rangkuti dari Departemen Seni dan HAKI Batak Center menegaskan bahwa budaya Batak sejak lama menjadikan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan sosial. Menurut dia, Idul Adha menjadi momentum yang memperlihatkan kuatnya solidaritas warga dalam membantu sesama tanpa memandang agama maupun status sosial.

Semangat gotong royong itu terlihat dari keterlibatan warga dalam berbagai persiapan Idul Adha, mulai dari membersihkan lingkungan, membantu penyembelihan hewan kurban, hingga mendistribusikan daging kepada masyarakat sekitar tanpa membeda-bedakan suku dan agama.

Herman mengatakan budaya Batak mengenal filosofi hidup yang menempatkan kebersamaan sebagai kekuatan utama masyarakat. “Budaya Batak mengajarkan rasa persaudaraan yang sangat kuat. Saat Idul Adha, semua saling membantu tanpa melihat perbedaan keyakinan,” ujar Herman dalam dialog tersebut.

Tradisi gotong royong dalam masyarakat Batak dikenal dengan istilah marsiadapari. Dalam ulasan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan atau Kemenko PMK, istilah itu berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti memberi bantuan terlebih dahulu kepada orang lain sebelum meminta bantuan serupa. Filosofi tersebut menjadi semacam hukum sosial yang diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Batak.

Prinsip itu tercermin dalam ungkapan Batak, “Dokdok rap manuhuk, neang rap manea,” yang berarti berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Menurut Herman, kekuatan budaya Batak justru terlihat ketika hubungan kekeluargaan tetap terjalin erat di tengah keberagaman agama dalam satu keluarga besar. “Banyak keluarga Batak yang berbeda agama, tetapi hubungan sosial mereka tetap hangat. Idul Adha sering menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan itu,” ucapnya.

Di sejumlah kampung halaman atau Bona Pasogit, tradisi membantu tuan rumah pesta maupun kegiatan adat masih terus dipertahankan. Warga membawa beras, makanan, hingga bantuan tenaga secara sukarela untuk meringankan beban keluarga yang mengadakan acara. Semangat serupa juga tampak dalam pelaksanaan kurban, ketika warga bersama-sama memasak dan menikmati hidangan sebagai simbol syukur dan persaudaraan.

Namun, perubahan zaman mulai memengaruhi praktik gotong royong tradisional tersebut. Kemenko PMK mencatat penggunaan mesin pertanian, sistem kerja berbayar, hingga pola hidup modern membuat tradisi marsiadapari di sejumlah sektor mulai berkurang. Meski demikian, budaya itu tetap bertahan kuat dalam kegiatan adat dan perayaan sosial masyarakat Batak.

Herman menilai nilai gotong royong masyarakat Batak masih sangat relevan untuk kondisi Indonesia saat ini. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan tantangan keberagaman, budaya saling membantu dinilai menjadi modal penting menjaga persatuan bangsa. “Generasi muda perlu menjaga warisan ini. Gotong royong bukan sekadar tradisi, tetapi cara merawat persaudaraan dan kemanusiaan,” kata Herman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....