Memaknai Kembali Dalihan Natolu dalam sistem Kekerabatan Batak
- 15 Sep 2026 23:20 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta - Dalihan Natolu merupakan salah satu fondasi penting dalam sistem kekerabatan masyarakat Batak yang hingga kini tetap memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Konsep yang secara harfiah berarti “tungku yang berkaki tiga” ini menggambarkan keseimbangan hubungan antara tiga unsur kekerabatan, yakni Hula-hula, Dongan Tubu, dan Boru. Dalam acara Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta, Senin (14/9/2026), St. Ev. Drs. Binsar Siregar, M.Psi, Anggota Intelektual Think Tank BATAK CENTER, melalui sambungan telepon bersama host Dermawan Ismail, mengajak masyarakat untuk kembali memahami Dalihan Natolu bukan sekadar sebagai aturan adat, melainkan sebagai nilai kehidupan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Menurut Binsar Siregar, Dalihan Natolu pada hakikatnya mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam hubungan antarmanusia. Setiap unsur dalam Dalihan Natolu memiliki posisi, fungsi, serta tanggung jawab yang saling melengkapi. Hula-hula ditempatkan sebagai pihak yang dihormati, Dongan Tubu menjadi bagian dari ikatan persaudaraan yang harus dijaga kebersamaannya, sementara Boru mendapatkan kasih sayang sekaligus penghargaan dalam hubungan kekerabatan. Ketiga unsur tersebut tidak dapat berdiri sendiri karena kekuatan sistem kekerabatan Batak justru terletak pada hubungan timbal balik yang menciptakan keharmonisan dan keteraturan sosial.
Lebih jauh, Binsar menilai bahwa memaknai kembali Dalihan Natolu menjadi penting di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. Modernisasi, perkembangan teknologi, urbanisasi, serta pola kehidupan masyarakat yang semakin individualistis dapat membuat generasi muda semakin jauh dari pemahaman terhadap akar budayanya. Karena itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Dalihan Natolu perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan masa kini tanpa kehilangan esensi dasarnya. Sikap saling menghormati, menjaga persaudaraan, bertanggung jawab terhadap keluarga, serta membangun hubungan yang harmonis merupakan nilai universal yang tetap dibutuhkan, baik dalam lingkungan keluarga maupun kehidupan bermasyarakat.
Dalam pandangan Binsar Siregar, Dalihan Natolu juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas dan karakter generasi muda Batak. Pemahaman terhadap adat tidak cukup hanya melalui simbol, upacara, atau penggunaan istilah-istilah kekerabatan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Generasi muda perlu mengetahui alasan filosofis di balik setiap hubungan kekerabatan sehingga adat tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan menjadi pedoman etika dalam menghadapi persoalan kehidupan modern. Dengan cara tersebut, budaya Batak dapat terus hidup, berkembang, dan beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Perbincangan mengenai Dalihan Natolu dalam program Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah budaya terletak pada kemampuan masyarakatnya untuk memahami sekaligus mengamalkan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Dalihan Natolu bukan hanya berbicara tentang siapa yang harus dihormati atau bagaimana seseorang menempatkan diri dalam hubungan keluarga, tetapi juga tentang keseimbangan, solidaritas, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama. Melalui pemaknaan kembali yang kontekstual, nilai-nilai Dalihan Natolu diharapkan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Batak dan terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....