Sanggar Segam Budaya, Menyatukan Seni Ebeg Banyumasan di tengah Perantauan
- 18 Mei 2026 20:26 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kebahagiaan terbesar hadir ketika pertunjukan mereka mampu menghibur penonton dan mendapat apresiasi dari masyarakat
- Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya, Sanggar Segam Budaya terus menjadi bagian penting dalam menjaga warisan seni tradisional Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta -Di tengah perkembangan zaman modern, semangat melestarikan budaya tradisional terus tumbuh melalui kehadiran Sanggar Segam Budaya yang berdiri pada 22 Mei 2022 di kawasan Bintaro, Jurang Mangu, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Sanggar ini hadir sebagai wadah bagi para pecinta seni budaya, khususnya kesenian ebeg atau kuda lumping khas Banyumasan, agar tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat luas.
Nama “Segam Budaya” sendiri memiliki makna mendalam, yakni Sekar Manunggal Budaya yang berarti bunga yang bersatu dalam kebudayaan.
Sanggar ini digagas langsung oleh Trisno Klawing dengan mengambil gaya atau gragag khas Purbalingga. Ia mendirikan sanggar tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya adiluhung Banyumasan agar tetap lestari di tengah masyarakat perantauan, khususnya di wilayah Jabodetabek.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, sanggar ini juga dibangun untuk mempererat tali silaturahmi antar penggiat seni tradisional.
Trisno Klawing, Pimpinan Sanggar Segam Budaya mengatakan disaat wawancara dalam acara Obrolan Komunitas Di Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 18 Mei 2026 melalui sambungan telp perihal jumlah dan kegiatan sanggarnya.
"Saat ini sanggar memiliki sekitar 30 anggota aktif yang serius mendalami seni budaya ebeg. Sanggar ini tidak hanya menjadi tempat latihan bersama, tetapi juga menjadi titik kumpul bagi kami berbagai grup ebeg untuk saling berinteraksi, bertukar ide, dan memperkuat rasa kebersamaan. Dalam setiap proses latihan, para anggota terus diajak menggali kreativitas agar mampu menampilkan pertunjukan terbaik di setiap kesempatan pentas", Ujar Trisno
Baca Juga:
Merawat Ikatan Persaudaraan Perantau Peniron di Jabodetabek

Berbagai kegiatan seni terus dilakukan oleh Sanggar Segam Budaya, mulai dari memenuhi undangan pentas hingga berpartisipasi dalam acara lingkungan dan kegiatan tingkat kecamatan. Bagi para anggota, kebahagiaan terbesar hadir ketika pertunjukan mereka mampu menghibur penonton dan mendapat apresiasi dari masyarakat. Namun di balik itu, perjalanan mengelola sanggar juga memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menyatukan banyak pemikiran dan menjaga kekompakan antar anggota.
Trisno sebagai Pendiri Sanggar Segam Budaya berharap kesenian ebeg atau kuda lumping dapat terus bertahan dan semakin dikenal hingga ke mancanegara. “Semoga seni budaya, khususnya ebeg, tetap lestari, semakin mendunia, dan semakin banyak masyarakat yang mencintai kesenian tradisional ini,” ujar Trisno Klawing. Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya, Sanggar Segam Budaya terus menjadi bagian penting dalam menjaga warisan seni tradisional Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....