Narasi Estetik Membedah Jejak Peradaban Kota Lama Semarang

  • 15 Mei 2026 16:34 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Semarang bukan sekadar kota pelabuhan yang terik, melainkan sebuah ruang slow living penuh toleransi yang kini dikemas apik dalam literasi populer. Melalui kolaborasi antara Sigarda Indonesia, komunitas-komunitas, penulis, dan peneliti Alexander Raymond, sejarah cagar budaya yang selama ini dianggap kaku berhasil didekati kembali oleh generasi muda melalui gaya bahasa yang ringan, inklusif, dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Buku ini mengajak pembaca berjalan kaki menyusuri sudut-sudut ikonik melalui narasi Point of View (POV) yang menghidupkan kembali memori kolektif tentang sejarah kota, mulai dari masa Hindia Belanda hingga pendudukan Jepang.

"Motivasi awalnya mendirikan komunitas ini adalah untuk membuat pelajaran sejarah tidak lagi membosankan bagi siswa," ungkap Founder Sigarda Indonesia, Ika Dewi Retnosari, Jumat, 15 Mei 2026.

Dengan prinsip menjadikan sejarah sebagai "keluarga besar," Sigarda menyatukan para peneliti tingkat atas dengan komunitas lapangan untuk membedah sumber primer yang kredibel, termasuk mengutip literasi tua seperti "Riwayat Semarang" (1933) karya Liem Thian Djoe yang bersumber dari catatan Kongkoan.

Dalam segmen Obrolan Komunitas RRI Pro 4 Jakarta (1305), diskusi ini membedah buku antologi hasil pengamatan langsung di lokasi bersejarah yang digarap bersama deretan penggiat sejarah seperti Bram Luska, Yogi Fajri, Alex Cheung, hingga Widya Wijayanti. Karya ini merangkum catatan sejarah menjadi dokumentasi permanen yang terdaftar di Perpustakaan Nasional, memastikan pengetahuan tentang jati diri kota tidak hilang tertelan arus informasi media sosial yang sementara.

Buku ini menawarkan sudut pandang tajam mengenai sepak terjang kaum Tionghoa dalam perkembangan kota, mulai dari sejarah pendekar kungfu tradisional, tokoh filantropi, hingga bisnis kalangan atas masa lalu. Tidak hanya itu, pembaca diajak menyelami sejarah pemakaman tua Bergota serta ragam tradisi yang masih terpelihara hingga saat ini, seperti pengaruh budaya Melayu, Koja, dan bangsa Moor yang membentuk identitas unik Semarang.

Kehadiran karya kolaboratif ini diharapkan menjadi pintu masuk yang menyenangkan bagi masyarakat luas untuk lebih mengenal identitas lokal tanpa merasa terbebani oleh istilah akademis yang rumit. Dengan mengemas sejarah ke dalam balutan literasi populer, ini membuktikan bahwa mencintai sejarah bangsa bisa dimulai dengan cara yang sangat menyenangkan, bahkan bagi mereka yang sebelumnya merasa asing dengan dunia sejarah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....