Menjaga Eksistensi Budaya Daerah Dari Arus Globalisasi dan AI

  • 12 Mei 2026 20:25 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Masa depan budaya daerah kini berada di persimpangan jalan akibat derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang masif. Fenomena ini dibahas secara mendalam dalam program "Suara Budaya Nusantara" yang disiarkan melalui frekuensi RRI dan platform Radiovisual RRI NET pada Selasa, 12 Mei 2026.

Program siaran Budaya Nusantara di RRI kali merupkan kolaborasi RRI Jakarta dan RRI Sungailiat menghadirkan sejarawan sekaligus budayawan Bangka Belitung, Drs. Akhmad Elvian, DPMP, ECH, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Akhmad Elvian menyoroti kondisi budaya daerah yang cenderung stagnan di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat. "Masyarakat, khususnya generasi muda, saat ini sedang terjebak dalam jebakan globalisasi karena materi budaya tidak disiapkan dengan benar secara digital," ujarnya menjelaskan tantangan literasi saat ini. Ia mengibaratkan arus globalisasi seperti banjir yang membawa limbah budaya atau informasi sampah yang berisiko mencemari nilai-nilai lokal jika tidak difilter dengan kuat.

Dato Akhmad Elvian juga menekankan kekhawatirannya terhadap fenomena rendahnya minat baca dan tulis di kalangan generasi Z serta Alpha. Menurutnya, tanpa literasi yang kuat, proses asimilasi budaya tidak akan berjalan seimbang dan justru memicu intervensi budaya luar yang mengikis identitas asli. "Ketahanan budaya hanya bisa terwujud jika masyarakat memiliki dasar pengetahuan sejarah yang kokoh sebagai benteng terhadap pengaruh asing," kata Elvian menekankan pentingnya pondasi sejarah bagi kaum muda.

Selain faktor sumber daya manusia, kendala besar dalam pelestarian budaya juga datang dari sisi kebijakan pemerintah daerah yang dinilai masih kurang maksimal. Elvian mengkritik masih banyaknya dinas kebudayaan di berbagai daerah yang memiliki anggaran sangat minim dan hanya bergantung pada kebijakan pemerintah pusat. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah seharusnya menjadi lembaga utama yang secara progresif mendorong pengembangan budaya dari tingkat bawah agar lebih berkelanjutan.

Ia kemudian memberikan contoh daerah seperti Bali dan Yogyakarta yang sukses menjadikan budaya sebagai motor penggerak ekonomi karena adanya visi yang berkelanjutan. Keberhasilan tersebut tercapai karena para pemangku kebijakan di sana memiliki komitmen jangka panjang dalam menjaga aset budaya mereka. Hal ini membuktikan bahwa sinergi antara regulasi yang tepat dan kecintaan terhadap tradisi dapat memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat luas.

Sebagai penutup, ia berpesan agar para pemimpin daerah tidak mudah mengganti personel yang bergerak di bidang kebudayaan demi kepentingan politik praktis. Membangun keahlian dan rasa cinta terhadap budaya memerlukan waktu yang lama serta dedikasi yang tinggi dari para pelakunya. Dengan penguatan materi budaya yang akurat dan komitmen regulasi yang kuat, diharapkan budaya daerah mampu bertahan dan terus memberikan manfaat bagi masa depan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....