Batik Purbalingga Bertahan di tengah Gempuran Produk Pabrik

  • 06 Mei 2026 01:41 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Batik Purbalingga terus bertahan di tengah gempuran produk pabrik. Dari motif alam hingga filosofi kehidupan rakyat Banyumas, para perajin menjaga warisan budaya agar tetap hidup lintas generasi.

Mulyono, pengrajin sekaligus desainer Motif Batik Asli Purbalingga dari Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, mengatakan batik daerah bukan sekadar kain bergambar. Menurutnya, setiap motif menyimpan sejarah, filosofi hidup masyarakat agraris, hingga karakter orang Banyumas yang lugas dan pekerja keras.

Mulyono, pengrajin dan designer Motif Batik Asli Purbalingga. (Foto: Dok Pribadi)

“Batik Purbalingga itu identitas budaya. Motifnya lahir dari kehidupan masyarakat dan alam sekitar,” ujar Mulyono dalam siaran radio 92,8 FM Pro 4 RRI Jakarta pada Jumat, 8 Mei 2026 akhir pekan kemarin. Dalam siaran itu, Mulyono bilang batik tulis buatannya dijual mulai Rp350 ribu hingga jutaan rupiah tergantung tingkat kerumitan dan lamanya pengerjaan.

Motif khas Purbalingga banyak mengambil inspirasi dari unsur tumbuhan, pegunungan, dan kehidupan rakyat pedesaan. Karakter warna yang cenderung tegas tetapi tetap membumi dianggap menjadi ciri yang membedakan batik Purbalingga dengan daerah lain di Jawa Tengah.

Di balik kekayaan motif tersebut, para pengrajin menghadapi tekanan besar dari produk tekstil bermotif batik yang diproduksi massal. Harga yang jauh lebih murah membuat pasar batik tulis semakin menyempit, terutama di kalangan konsumen muda yang lebih mempertimbangkan aspek harga dibanding nilai seni.

Namun Mulyono menilai batik tulis tidak bisa disamakan dengan produk cetakan pabrik. “Nilai seni dan filosofi batik asli tidak bisa sepenuhnya ditiru mesin. Karena itu masyarakat perlu mulai menghargai karya buatan tangan,” ucapnya.

Menurut arsip Pemerintah Kabupaten Purbalingga yang kami akses pada Selasa, 12 Mei 2026, menunjukkan sektor batik lokal sempat terpukul selama pandemi Covid-19. Namun kegiatan Soedirman Fashion Street menjadi titik kebangkitan baru bagi para perajin setelah dua tahun vakum aktivitas ekonomi budaya.

Ketua Sentra Batik Purbalingga, Yoga Prabowo, dalam arsip pemberitaan Pemerintah Kabupaten Purbalingga tadi menyebut sedikitnya 20 sentra batik ikut meramaikan ajang tersebut. Para perajin bahkan mulai mengeksplorasi Motif Batik Soedirman sebagai ikon baru batik Purbalingga untuk memperkuat identitas daerah.

Program itu turut mendongkrak pesanan batik dari instansi pemerintah. Perajin Batik Mangunegara, Titin Wahyuningsih, menyebut pihaknya menerima pesanan puluhan lembar batik Soedirman dengan variasi harga mulai Rp200 ribu hingga Rp500 ribu sesuai teknik pengerjaan.

Tak hanya diminati pasar domestik, batik khas Purbalingga juga pernah menarik perhatian wisatawan asal Belanda dalam kunjungan budaya tahun 2018 di Pendopo Dipokusumo. Pemerintah daerah mencatat wisatawan asing tertarik pada motif lokal seperti pring sedapur dan lumbon yang dianggap unik dan tidak ditemukan di negara lain.

Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Purbalingga saat itu, Adi Purwanto, mengatakan ketertarikan wisatawan asing menjadi peluang promosi produk lokal ke pasar internasional. “Mereka tertarik dengan motif khas Purbalingga karena berbeda dengan batik yang biasa mereka lihat,” kata Adi.

Mulyono melihat tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal pasar, melainkan regenerasi perajin muda. Karena itu ia aktif mengenalkan batik melalui pelatihan, pameran budaya, hingga media digital agar batik tidak sekadar dipakai saat acara resmi, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....