Merawat Ebeg di Tanah Rantau, Semangat Guyub Wong Ngapak di Jabodetabek
- 06 Mei 2026 21:36 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Sanggar Tri Manunggal Sari (TMS) mengandung makna tiga unsur utama dalam setiap pementasan, yakni Tari Ebeg, Tari Barongan, dan Tari Dangsak atau Cepetan Alas.
- Sanggar Tri Manunggal Sari berkembang pesat dengan anggota mencapai lebih dari 150 orang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Perjalanan merantau dari Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, menuju hiruk-pikuk Jabodetabek menjadi awal kisah Sutarno dalam menjaga kecintaan terhadap seni tradisi. Sejak di kampung halaman, ia aktif mengikuti kesenian kuda lumping di sanggar desa. Namun, ketika menetap di Jakarta, kerinduan terhadap hiburan khas daerah itu sempat tak terobati, mengingat saat itu pertunjukan kuda lumping masih jarang dijumpai di ibu kota.
Sutarno menyampaikan disaat wawancara dalam acara Obrolan Komunitas, Selasa, 5 Mei 2026, melalui sambungan telp perihal beliau menjadi pemimpin Sanggar Tri Manunggal Sari.
"Seiring waktu, saya memulai menemukan jalan untuk kembali terhubung dengan dunia yang saya cintai. Saya bergabung dengan komunitas seni ebeg kebumenan dan banyumasan, yakni Paguyuban Pecinta Kuda Lumping Kebumen (PPKLK). Dari sinilah, jaringan pelaku seni dari berbagai daerah seperti Kebumen, Cilacap, Banyumas, hingga Purbalingga mulai terjalin erat. Kolaborasi antarkomunitas pun tumbuh, menghadirkan semangat guyub rukun di tengah perantauanyang membuat saya senang," ujar Sutarno.
Melihat antusiasme yang besar, Sutarno kemudian berinisiatif mendirikan sanggar sendiri yang membawa ciri khas Desa Peniron. Pada 20 Maret 2022, lahirlah Sanggar Tri Manunggal Sari (TMS) di Tanah Baru, Depok. Nama tersebut mengandung makna tiga unsur utama dalam setiap pementasan, yakni Tari Ebeg, Tari Barongan, dan Tari Dangsak atau Cepetan Alas. Keunikan sanggar ini terletak pada hadirnya Tari Dangsak yang sarat nilai historis dan karakter kuat, dipadukan dengan selingan Tari Lengger yang menghadirkan nuansa hiburan yang lebih cair.

Dalam perjalanannya, Sanggar Tri Manunggal Sari berkembang pesat dengan anggota mencapai lebih dari 150 orang. Mereka terdiri dari penari, pengrawit, tim lapangan, hingga para sesepuh seni. Tidak ada syarat khusus untuk bergabung, selain niat untuk melestarikan budaya dan mempererat silaturahmi.
Setiap pementasan dipersiapkan secara matang, mulai dari konsep hingga eksekusi, agar mampu menyesuaikan dengan karakter penonton dan memberikan pertunjukan yang berkesan.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti keterbatasan waktu anggota yang bekerja maupun kondisi cuaca saat pentas, semangat untuk terus berkarya tak pernah surut. Sanggar ini kini telah menjelajah berbagai wilayah Jabodetabek dan rutin tampil dalam beragam acara. Sutarno berharap ke depan ada perhatian lebih dari pemerintah untuk mendukung para pelaku seni tradisi di perantauan.
“Kami ingin ebeg tetap hidup, dikenal luas, dan menjadi perekat persaudaraan wong ngapak di mana pun berada,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....