Tradisi Pernikahan Lintas Agama dan Adat, Dalam Budaya Ngapak dan Batak

  • 16 Mar 2026 19:36 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID,Jakarta - Pernikahan lintas budaya dan agama antara masyarakat Ngapak Banyumasan dan Batak Angkola menjadi topik hangat dalam program Apresiasi Budaya Banyumasan yang disiarkan langsung melalui Pro 4 RRI Jakarta pada Jumat, 13 Maret 2026.

Dalam perbincangan yang dipandu oleh host Dermawan Ismail bersama Kang Jori Guplak, narasumber Marsinah S.Pd., guru di SDN Sasak Panjang 01 Tajur Halang Bogor, menyampaikan pandangannya melalui sambungan telepon mengenai dinamika sosial dan budaya di balik pernikahan beda agama tersebut. Menurut Marsinah, fenomena ini tidak hanya soal hubungan pribadi, tetapi juga pertemuan nilai, tradisi, dan identitas keluarga besar dari dua latar belakang budaya yang berbeda.

Marsinah menuturkan bahwa masyarakat Ngapak Banyumasan dikenal memiliki karakter terbuka dan egaliter, sementara masyarakat Batak Angkola sangat kuat dalam tradisi adat dan kekerabatan. Ketika dua budaya ini bertemu dalam sebuah pernikahan, muncul proses negosiasi nilai yang unik, terutama ketika pasangan juga berasal dari latar agama yang berbeda. Ia menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, keluarga berusaha mencari titik temu agar kedua tradisi tetap dihormati tanpa menghilangkan identitas masing-masing. “Yang menarik justru proses dialog antar keluarga. Mereka belajar memahami budaya satu sama lain,” ujar Marsinah dalam wawancara telepon tersebut.

Dalam diskusi tersebut, Marsinah juga menyoroti bahwa pernikahan beda agama sering memunculkan tantangan sosial, terutama dalam hal penerimaan keluarga besar dan masyarakat sekitar. Namun, ia melihat bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih terbuka terhadap keberagaman, selama komunikasi dalam keluarga berjalan baik. Ia menambahkan bahwa nilai toleransi yang tumbuh dari pertemuan budaya seperti ini justru dapat memperkaya khazanah kebudayaan lokal Indonesia. Menurutnya, pernikahan lintas identitas bukan sekadar persoalan hukum atau agama, tetapi juga soal bagaimana dua keluarga besar membangun kesepahaman baru.

Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak dalam program tersebut menanggapi pandangan Marsinah dengan menekankan pentingnya pelestarian budaya Banyumasan di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung. Mereka menilai bahwa kisah pernikahan lintas budaya seperti Ngapak dan Batak Angkola dapat menjadi contoh nyata bagaimana tradisi tetap hidup sekaligus beradaptasi dengan realitas masyarakat modern. Percakapan di udara pun menjadi semakin hangat ketika Kang Jori Guplak menambahkan sentuhan humor khas Banyumasan yang membuat pembahasan terasa ringan namun tetap bermakna.

Menutup perbincangan, Marsinah berharap masyarakat dapat melihat pernikahan lintas budaya dan agama sebagai kesempatan untuk memperluas pemahaman tentang keberagaman Indonesia. Sebagai seorang pendidik, ia menilai nilai toleransi dan saling menghormati perlu terus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Ia percaya bahwa keberagaman yang dikelola dengan dialog dan saling pengertian justru dapat memperkuat persatuan bangsa. Program Apresiasi Budaya Banyumasan di Pro 4 RRI Jakarta malam itu pun menjadi ruang refleksi bahwa perbedaan budaya dan keyakinan tidak selalu menjadi penghalang, melainkan dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal lebih dalam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....