Dekolonisasi Museum, Upaya Tulus Merajut Sejarah yang Putus

  • 30 Apr 2026 10:53 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Semangat dekolonisasi kini tengah menggetarkan panggung permuseuman dunia sebagai upaya tulus untuk merajut kembali benang-benang narasi sejarah yang sempat terputus dari akar aslinya.

Gerakan ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah misi untuk mengembalikan kedaulatan identitas koleksi museum kepada pemilik budaya yang sebenarnya agar sejarah tak lagi dipandang dari satu sudut saja.

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman, dekolonisasi menjadi nyawa baru bagi museum untuk tampil lebih inklusif dan mampu berbicara lebih jujur mengenai masa lalu.

Dikutip dari Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A., pakar arkeologi yang menjadi narasumber dalam diskusi ArkeoTalks, nantinya ia akan mengupas tuntas mengenai praktik dekolonisasi dari perspektif Global Selatan. Dalam pemaparannya, Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A. menjelaskan bahwa dekolonisasi dalam pengelolaan museum sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan lembaga tersebut, terutama dalam menciptakan ruang yang lebih adil bagi narasi-narasi lokal yang selama ini terpinggirkan. Hal ini menjadi krusial mengingat museum harus terus bertransformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Diskusi ini juga menyoroti fenomena pertumbuhan museum di wilayah DIY-Jawa Tengah yang secara statistik masuk dalam lima besar tertinggi di Indonesia. Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A. mengajak audiens untuk menelaah apakah pengelolaan museum di wilayah tersebut sebetulnya sudah menerapkan praktik dekolonisasi sejak lama tanpa disadari. Pertukaran ide ini dipandu oleh Dian Nisa Anna Rahmayani, S.S., yang mengarahkan pembicaraan pada pentingnya pemahaman mendasar mengenai inklusivitas dalam institusi budaya.

Upaya dekolonisasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan mengenai bagaimana museum lokal dapat mengelola koleksinya secara berkelanjutan. Dengan menempatkan perspektif pemilik budaya sebagai inti dari setiap pameran, museum tidak hanya berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang antik, tetapi menjadi pusat pembelajaran yang hidup. Diskusi ini menjadi pemantik penting bagi para pengelola museum untuk mengevaluasi kembali peran mereka dalam melestarikan memori kolektif bangsa secara lebih otentik.

Melalui pendekatan yang inklusif, museum di masa depan akan menjadi cermin yang lebih jernih bagi identitas masyarakat Indonesia di mata dunia. Sinergi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat menjadi kunci utama agar semangat dekolonisasi ini tidak berhenti pada wacana semata. Dengan demikian, kekayaan budaya yang tersimpan di museum-museum DIY-Jateng maupun seluruh Nusantara dapat terus terjaga kehormatannya sebagai warisan luhur yang mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....