Menjaga Warisan Betawi Lewat Semangat Generasi Muda
- 20 Apr 2026 21:50 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sanggar Karya Muda menjadi salah satu contoh nyata upaya pelestarian budaya Betawi yang tumbuh dari akar masyarakat. Berdiri pada 16 Agustus 2016 di Kampung Berkat, Desa Kalisuren, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, sanggar ini langsung dideklarasikan melalui pertunjukan lenong Betawi bertajuk “Lenong Karya Muda”. Meski pada awalnya belum tercatat secara resmi di dinas kebudayaan, semangat para anggotanya tidak surut untuk terus berkarya dan tampil di berbagai kesempatan.
Seiring berjalannya waktu, Sanggar Karya Muda aktif mengisi berbagai kegiatan, baik bersifat komersial maupun sukarela, terutama untuk lingkungan sekitar seperti karang taruna. Karena sebagian besar anggotanya merupakan pemuda setempat, sanggar ini menjadi ruang kreatif sekaligus wadah kebersamaan. Setelah melalui perjalanan panjang, pada tahun 2021 sanggar ini akhirnya memperoleh pengesahan resmi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor. Nama “Karya Muda” sendiri mengandung makna sederhana namun kuat: generasi muda yang terus berkarya.
Sanggar ini diprakarsai oleh Abdul Husen, yang juga menjabat sebagai ketua. Ia terdorong oleh kekhawatiran akan semakin memudarnya seni budaya Betawi di kampungnya, seiring wafatnya para seniman senior. Baginya, pelestarian budaya bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab lintas generasi. Abdul Husen Atau lebih dikenal dengan bang Husen Kucek menyampaikan pentingnya untuk menjaga budaya untuk generasi muda, disaat wawancara dalam Obrolan komunitas melalui sambungan telp, Senin 20 April 2024.
“Kalau tidak kita jaga bersama, generasi mendatang bisa kehilangan jejak budayanya sendiri,” ujar bang Husen Kucek.

Saat ini, Sanggar Karya Muda memiliki sekitar 25 anggota dengan syarat utama yang sederhana: kemauan, komitmen, dan niat untuk belajar serta melestarikan budaya. (Foto: Husen Kucek)
Saat ini, Sanggar Karya Muda memiliki sekitar 25 anggota dengan syarat utama yang sederhana: kemauan, komitmen, dan niat untuk belajar serta melestarikan budaya. Beragam kegiatan pun dikembangkan, mulai dari lenong, palang pintu, hingga arak-arakan ondel-ondel. Dalam praktiknya, sanggar ini tidak hanya aktif di tingkat kampung, tetapi juga telah tampil di berbagai kota, gedung dinas, hingga pusat perbelanjaan di Bogor dan Depok.
Di balik perjalanan tersebut, tersimpan suka dan duka yang menjadi bagian dari proses. Kebanggaan karena dikenal luas dan memperluas jaringan pergaulan menjadi motivasi tersendiri. Namun, keterbatasan fasilitas, transportasi, serta minimnya dukungan dari pemerintah setempat masih menjadi tantangan. Meski begitu, harapan terus dijaga. “Kami ingin sanggar ini berkembang lebih besar, menjadi wadah bagi pemuda untuk belajar dan berkarya, sekaligus mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah,” ungkap perwakilan sanggar.
Baca Juga :
Merawat Kreativitas di Jalanan, Komunitas Fotografi yang Tumbuh dari Kebersamaan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....