Merawat Tradisi, Menjawab Zaman

  • 14 Feb 2026 02:35 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Sejak ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, semangat menjaga warisan budaya kian menguat di ibu kota. Salah satu wujud nyata dari semangat tersebut adalah berdirinya Sanggar Pandan Wangi Setubabakan pada 17 Maret 2016.

Sanggar yang berlokasi di Jagakarsa, Jakarta Selatan ini dipimpin oleh Ratna Suminar yang akrab disapa Mpo Nana Sendiz, dengan dewan pembina Biem Triani Benyamin. Awalnya sanggar ini bernama SKB, sebelum akhirnya resmi berganti nama pada tahun 2021 menjadi Sanggar Pandan Wangi Setubabakan.

Kehadiran sanggar ini sejalan dengan amanah regulasi daerah tersebut, yakni memperkuat pelestarian budaya Betawi melalui pembinaan dan pelatihan. Berbagai program digelar secara rutin, mulai dari tari Betawi, teater Betawi, pelatihan MC, stand-up comedy, hingga musik tradisional.

Ratna Suminar atau di sapa Mpo Nana Pemimpin Sanggar Pandan Wangi mengatakan, “Kami ingin budaya Betawi tidak hanya dikenal, tetapi juga dipelajari dan dicintai oleh generasi muda,” ujar Mpo Nana disaat wawancara Obrolan Komunitas RRI Pro4 Jakarta, Senin, 9 Februari 2026 melaui sambungan telepon.

Dalam perjalanannya, Sanggar Pandan Wangi Setubabakan aktif menjalin kemitraan dengan sekolah-sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler seni tari. Hingga kini, jumlah anggota tercatat lebih dari 130 orang yang tersebar di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan, hingga Kota Depok.

Syarat bergabung pun terbuka bagi siapa saja yang memiliki minat, mendapat dukungan orang tua, mengisi formulir keanggotaan, serta membayar iuran sebesar Rp75.000 per bulan.

Kehadiran Sanggar Pandan Wangi ini sejalan dengan amanah regulasi daerah tersebut, yakni memperkuat pelestarian budaya Betawi melalui pembinaan dan pelatihan. (Foto: Ratna Suminar)

Di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya populer seperti K-Pop, sanggar ini terus beradaptasi tanpa meninggalkan akar tradisi. Seluruh ide, konsep, hingga manajemen kegiatan digerakkan langsung oleh Mpo Nana bersama tim secara kolektif dan terbuka untuk kolaborasi lintas komunitas.

“Tantangan era digital justru menjadi peluang untuk mengemas budaya Betawi agar tetap relevan dan diminati,” tuturnya. Visi sanggar ini adalah menjadi pusat kegiatan unggul dan berkelanjutan dalam melestarikan serta mengembangkan warisan budaya lokal sekaligus membangun karakter generasi muda.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai karya teater seperti Betawi Berjuang Indonesia Merdeka (2023), Pangeran Jaga Raksa (2024), dan Singa Betawi (2025) yang didukung Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setubabakan.

Selain itu, para anggota juga tampil dalam berbagai ajang nasional dan internasional, termasuk kegiatan Car Free Day dan PRJ Kemayoran. Besar harapan sanggar ini agar pemerintah terus meningkatkan dukungan serta membuka kesempatan misi budaya secara bergilir bagi sanggar-sanggar Betawi.

“Salam budaya, mari kita jaga dan majukan warisan leluhur kita bersama,” pungkas Mpo Nana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....