Gelombang PHK 'Hantui' Dunia Kerja
- 15 Mei 2025 17:34 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terus 'menghantui' para pekerja di Indonesia. Tidak sedikit yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan tanpa pemberitahuan, bahkan dari perusahaan yang sebelumnya dianggap stabil.
Di tengah badai ini, masyarakat dituntut untuk cepat beradaptasi dan mencari peluang baru, baik sebagai pekerja maupun wirausaha. Catherine Ikadewi, seorang Praktisi HR dan CEO & Founder of Rectra menyoroti pentingnya perubahan mindset dalam menghadapi situasi sulit pasca-PHK.
“Jangan cuma cari kerja, tapi cari uang. ” ucapnya, saat diwawancara Pro 1 Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Catherine menjelaskan bahwa, dunia kerja saat ini telah berubah drastis. Digitalisasi dan otomatisasi memaksa perusahaan untuk memangkas biaya operasional, termasuk mengurangi jumlah pegawai.
“Manusia sering dilewatkan karena mindset perusahaan sudah terlalu berfokus pada teknologi,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa CV dan surat lamaran kerja kini tidak bisa dibuat asal-asalan. Sistem rekrutmen berbasis teknologi seperti ATS (Applicant Tracking System) telah menjadi tantangan baru.
Menurutnya, pelamar harus mampu menyesuaikan isi CV dan lamaran kerja dengan kebutuhan posisi yang dilamar.“Kalau CV kamu tidak bisa dibaca oleh ATS, ya sudah gugur di awal,” jelas Catherine.
Namun, Catherine juga mendorong masyarakat untuk tidak hanya terpaku menjadi pencari kerja. Ia menyarankan tips untuk mulai berpikir sebagai pencari uang melalui jalan wirausaha.
“Kerja itu bukan cuma di kantor. Asal bisa menghasilkan uang, itu juga kerja,” katanya.
Banyak korban PHK yang kemudian beralih menjadi pebisnis kecil atau freelancer. Bahkan, ada yang mendapat penghasilan dari pekerjaan jarak jauh dengan klien internasional.
“Remote worker sekarang sudah banyak, dan penghasilannya juga tidak main-main,” imbuhnya.
Selain itu, Caterine juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan skill. Ia pernah menemukan banyak pekerja yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja, namun tidak pernah memperbarui CV atau mengasah kemampuan wawancara. “
Kalau tidak siap dari sekarang, pas PHK datang, bingung sendiri,” katanya.
Menurutnya, perusahaan pun seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk mempersiapkan pekerja menghadapi masa transisi. Program persiapan pensiun, pelatihan pembuatan CV, hingga pelatihan bisnis semestinya menjadi bagian dari sistem HR.
“Setidaknya ada pelatihan bagaimana bertahan atau membangun usaha,” saran Catherine.
Selain tantangan internal, para pencari kerja juga dihadapkan pada bahaya penipuan lowongan kerja. Catherine mengingatkan agar masyarakat lebih cermat membaca informasi lowongan dan selalu mengecek keaslian sumber.
“Kalau lowongan minta uang duluan, itu sudah tanda-tanda penipuan,” tegasnya.
Selebihnya, Caterine menyampaikan pesan yang menguatkan untuk para korban PHK “PHK bukan akhir segalanya, mungkin itu justru awal dari peluang baru yang lebih baik. Kuncinya adalah jangan diam, tetap bergerak.” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....