Dashcam Berbasis AI Mulai Dimanfaatkan untuk Deteksi Perilaku Pengemudi

  • 25 Sep 2026 02:19 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Penggunaan kamera dashboard atau dashcam pada kendaraan kini tidak hanya dimanfaatkan untuk merekam perjalanan. Teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI mulai digunakan untuk mendeteksi perilaku pengemudi yang berpotensi membahayakan keselamatan secara real-time.

Teknologi tersebut salah satunya diterapkan melalui AI Dashcam Pro yang diperkenalkan perusahaan telematika dan manajemen armada, Cartrack.

Chief Strategy & Marketing Officer Cartrack, Carmen Calisto mengatakan, sistem berbasis AI tersebut dapat mendeteksi sejumlah kondisi pengemudi, seperti kelelahan, kehilangan konsentrasi, hingga penggunaan telepon seluler saat berkendara.

Menurutnya, pemantauan secara langsung diperlukan karena sejumlah kecelakaan lalu lintas berkaitan dengan perilaku manusia yang sebenarnya dapat dikenali dan dikoreksi sebelum berkembang menjadi kecelakaan.

“Dengan menggunakan AI, sistem mendeteksi kelelahan, gangguan konsentrasi, penggunaan ponsel, dan berbagai kejadian berisiko lainnya saat hal tersebut terjadi,” ujar Carmen dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

Carmen menilai aspek keselamatan juga memiliki dampak terhadap operasional perusahaan, khususnya bagi pengelola kendaraan dalam jumlah besar.

Risiko kecelakaan tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pengemudi dan pengguna jalan, tetapi juga dapat berdampak pada biaya operasional dan keberlangsungan layanan.

“Namun, di balik setiap statistik kecelakaan terdapat pengemudi atau pengguna jalan yang tidak sampai kembali ke rumah, dan begitu banyak kecelakaan tersebut sebenarnya dapat dicegah,” kata Carmen.

Sementara itu, Head of Sales Cartrack Indonesia, Enrico Putra Mustamu, menjelaskan kamera AI bekerja dengan mengenali wajah dan memantau perilaku pengemudi selama kendaraan berjalan.

Sistem tidak akan memberikan peringatan ketika pengemudi dalam kondisi fokus. Peringatan baru diberikan ketika kamera mendeteksi perilaku yang berpotensi mengganggu aktivitas mengemudi.

“Jadi AI itu akan meng-capture perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki secara real-time. Kata kuncinya di sini adalah real-time,” kata Enrico.

Beberapa kondisi yang dapat dikenali antara lain mata pengemudi yang mulai terpejam, menguap, atau pandangan yang terlalu lama tidak mengarah ke jalan.

Sistem juga dapat memberikan peringatan ketika kendaraan berada terlalu dekat dengan kendaraan di depannya dan berpotensi menimbulkan tabrakan.

Ketika kondisi berisiko terdeteksi, peringatan diberikan langsung di dalam kabin melalui suara. Sistem juga dapat memberikan getaran pada kursi pengemudi sebagai bentuk peringatan agar pengemudi segera melakukan koreksi.

Selain memberikan peringatan otomatis, perangkat tersebut dilengkapi komunikasi dua arah yang memungkinkan pengelola armada berkomunikasi langsung dengan pengemudi. Rekaman kejadian yang terdeteksi juga dapat disimpan untuk menjadi bahan evaluasi terhadap perilaku berkendara.

Enrico mengatakan sistem tersebut dapat tetap terhubung dengan operator meskipun kendaraan berada di luar wilayah operasionalnya. Dengan demikian, pengelola armada dapat memantau kejadian yang terdeteksi tanpa harus berada di lokasi kendaraan.

Pemanfaatan teknologi tersebut pada akhirnya diarahkan bukan hanya untuk merekam kejadian setelah kecelakaan terjadi, tetapi juga membantu mengidentifikasi perilaku berisiko sebelum menimbulkan insiden di jalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....