Tantangan Perempuan, Dari beban ganda hingga Tekanan Media Sosial
- 15 Sep 2026 13:13 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Perempuan menghadapi tantangan berlapis mulai dari beban ganda, kekerasan, diskriminasi hingga tekanan media sosial.
- Dukungan keluarga dan lingkungan diperlukan agar perempuan tidak menghadapi berbagai beban seorang diri.
- Media sosial perlu digunakan secara bijak agar menjadi ruang yang aman dan memberdayakan perempuan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pagi hari bagi sebagian perempuan bukan sekadar soal memulai aktivitas. Ada pekerjaan, keluarga, tanggung jawab rumah tangga, hingga tuntutan untuk tetap terlihat baik di lingkungan sosial. Belum lagi tekanan yang datang dari media sosial.
Persoalan tersebut dibahas dalam Mutiara Pagi RRI Pro 1 Jakarta, Selasa, 15 September 2026, bersama Hj. Dewi Urifah, Lc., M.Pd.I., Ketua DPW WAZIN Bali dan Nusa Tenggara sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram, dipandu Host Farid Kurniawan.
Mengangkat tema “Tantangan Perempuan: Beban Ganda, Kekerasan, Diskriminasi, Serta Tekanan Media Sosial”, Dewi menyoroti bahwa perempuan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
“Perempuan sering kali menjalankan banyak peran sekaligus. Karena itu, jangan sampai beban tersebut dianggap sebagai sesuatu yang memang harus selalu ditanggung perempuan sendirian,” demikian pengembangan pernyataan narasumber dari bahasan dialog.
Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi penting agar perempuan dapat menjalankan perannya tanpa kehilangan ruang untuk berkembang dan mengambil keputusan bagi dirinya.
TANTANGAN DI RUANG DIGITAL
Dewi juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap perempuan kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar dan berjejaring, tetapi juga bisa menghadirkan tekanan melalui perbandingan hidup, komentar negatif, hingga kekerasan berbasis gender.
“Media sosial seharusnya menjadi ruang yang memberikan manfaat, bukan justru membuat perempuan merasa harus memenuhi standar tertentu atau takut menjadi dirinya sendiri,” demikian pengembangan pernyataan narasumber.
Data Komnas Perempuan menunjukkan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius. Sepanjang 2025 tercatat 376.529 kasus, meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Karena itu, menurut Dewi, perempuan perlu memiliki pengetahuan, keberanian, dan dukungan lingkungan untuk mengenali bentuk kekerasan maupun diskriminasi yang dialaminya.
Pada akhirnya, membangun perempuan yang berdaya bukan berarti meminta perempuan menjadi kuat menghadapi semuanya sendirian. Justru lingkungan keluarga dan masyarakat perlu ikut menciptakan ruang yang aman, adil, dan saling mendukung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....