3 Perpustakaan di Tempat Tak Terduga
- 16 Sep 2026 09:34 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September berdasarkan inisiatif yang berasal dari surat Kepala Perpustakaan Nasional pertama, Mastini Hardjoprakoso, kepada Presiden Soeharto tanggal 11 Agustus 1995.
- Surat bernomor 020/A1/VIII/1995 tersebut mengusulkan penetapan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan untuk membangun kebiasaan masyarakat berkunjung ke perpustakaan.
- Tujuan utama peringatan Hari Kunjung Perpustakaan adalah meningkatkan kegemaran membaca dan mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih aktif menggunakan layanan perpustakaan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap 14 September, Indonesia memperingati Hari Kunjung Perpustakaan. Inisiatif ini lahir surat yang dikirimkan dari Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pertama, Mastini Hardjoprakoso kepada Presiden Soeharto pada 11 Agustus 1995 silam.
Website resmi perpusnas.go.id menyebutkan Surat bernomor 020/A1/VIII/1995 tersebut mengusulkan agar 14 September ditetapkan sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Tujuannya sederhana, yaitu membangun kebiasaan masyarakat berkunjung ke perpustakaan dan meningkatkan kegemaran membaca.
Tahun ini, Hari Kunjung Perpustakaan salah satunya diperingati dengan menggelar pameran "Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran" di Graha Literasi, Bangunan Cagar Budaya Perpustakaan Nasional, Jakarta pada 14 hingga 30 September 2026 .
Pameran tersebut membagi materi ke dalam empat tema, yaitu Warisan Indonesia untuk Dunia, Warisan Nilai Bersama, Warisan Perempuan, dan Warisan Karya Istimewa. Karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Perpustakaan Nasional dengan Institut Teknologi Bandung dan menghasilkan 50 buku anak serta komik yang bersumber dari berbagai naskah kuno Nusantara.
| Baca juga: Ruang Kreatif Dilereng Gunung Merapi |
"Kolaborasi ini menjadi upaya untuk mendekatkan sejarah, budaya, dan kearifan, yang terkandung dalam naskah kuno kepada generasi masa kini," kata Joko Santoso, Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional di Jakarta seperti dilansir kantor berita Antara.
Perpustakaan selama ini identik dengan gedung, meja baca, rak tinggi, dan suasana yang tenang. Namun di berbagai negara, ada perpustakaan yang justru hadir di tempat yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Berikut daftar 3 perpustakaan di tempat tak terduga yang bisa jadi mengubah cara kita membaca:

1. Buku Menemani Pengunjung di Pemakaman
Di Krems, Austria, sebuah perpustakaan berdiri di kompleks Pemakaman Yahudi Krems. Menurut website atlasobscura.com, yang kami akses pada Rabu, 16 September 2026, tempat ini memiliki sejarah panjang karena kompleks pemakaman tersebut hampir seluruhnya dihancurkan pada masa Nazi Jerman sebelum dipulihkan pada 1995.
Pada 2004, seniman Michael Clegg dan Martin Guttmann membuat perpustakaan terbuka dengan tiga rak buku. Pengunjung dapat mengambil buku atau menambahkan buku sehingga ruang tersebut tidak sekadar menjadi tempat menyimpan koleksi.
Perpustakaan itu juga berfungsi sebagai karya seni sekaligus pengingat sejarah komunitas Yahudi Krems. Di dekatnya terdapat penanda dengan 129 nama warga Yahudi yang terbunuh atau terusir dari Krems.
Guttmann menjelaskan bahwa tempat tersebut tidak ingin dibiarkan menjadi ruang yang hanya menyimpan kesunyian masa lalu. "in order to put life into it you really need a special kind of involvement, and sometimes art can really bring that with it," ujarnya seperti dikutip Atlas Obscura.

2. Keledai Menjadi Kendaraan Perpustakaan
Kalau biasanya buku diantar menggunakan mobil atau sepeda motor, cerita di Kolombia justru berbeda. Guru bernama Luis Soriano membawa buku menggunakan dua ekor keledai bernama Beto dan Alfa melalui program yang dikenal sebagai Biblioburro.
Soriano melihat membaca memberikan manfaat bagi murid-muridnya di La Gloria. Ia kemudian membawa koleksi buku ke masyarakat di Departemen Magdalena yang memiliki keterbatasan ekonomi dan akses terhadap bahan bacaan.
Program tersebut awalnya berjalan dalam skala kecil. Namun donasi buku terus berdatangan sampai rumah Soriano dipenuhi koleksi, sementara perjalanan Biblioburro semakin luas.
Buku yang dibawa bukan hanya cerita anak, tetapi juga novel dan buku mengenai kesehatan. Kisah Biblioburro bahkan diangkat dalam film dokumenter produksi Perusahaan Penyiaran Publik Amerika Serikat pada 2011.

3. Tank Berubah Menjadi Kendaraan Pembawa Buku
Di Argentina, perpustakaan bergerak mengambil bentuk yang jauh lebih mencolok. Seniman Raul Lemesoff mengubah Ford Falcon keluaran 1979 menjadi kendaraan yang bentuknya menyerupai tank dan dipenuhi buku.
Kendaraan itu diberi nama Arma de Instruccion Masiva atau Senjata Instruksi Massal. Buku-buku yang dibawanya dapat diambil secara gratis oleh masyarakat yang ditemui sepanjang perjalanan.
Kendaraan tersebut terutama berkeliling Buenos Aires, tetapi juga pernah bergerak menuju wilayah pedesaan yang memiliki akses buku lebih terbatas. Lemesoff menggambarkan gagasannya sebagai "contribution to peace through literature," atau kontribusi terhadap perdamaian melalui sastra.
(Ike Chelia Putri – mahasiswi magang Universitas Gunadarma berkontribusi menyusun artikel ini)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....