Inflasi Jakarta Agustus Terkendali, Pangan Tetap Jadi Perhatian

  • 09 Sep 2026 19:45 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Inflasi Jakarta pada Agustus 2026 tetap terkendali, meski kenaikan harga pangan menjadi perhatian masyarakat. BPS mencatat inflasi bulanan Jakarta sebesar 0,15 persen pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional.

Statistik Ahli Madya Statistik Distribusi dan Harga BPS DKI Jakarta, Qurratul Aini, menjelaskan perkembangan tersebut dalam dialog interaktif RRI Pro 1 Jakarta. Ia menyebut inflasi tahunan Jakarta pada Agustus 2026 mencapai 2,71 persen.

“Inflasi bulanan Jakarta hanya merangkak sebesar 0,15 persen secara month-to-month,” kata Qurratul Aini, Rabu (9 September 2026).

Sementara itu, inflasi Jakarta berdasarkan tahun kalender atau year-to-date dari Januari hingga Agustus 2026 mencapai 1,65 persen. Adapun secara tahunan atau year-on-year, inflasi Jakarta berada pada level 2,71 persen dan masih dalam sasaran inflasi nasional.

Qurratul mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perkembangan harga di Jakarta relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah wilayah lainnya. "Namun, masyarakat tetap merasakan tekanan pengeluaran karena kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi," jelasnya.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil sebesar 0,15 persen terhadap inflasi Jakarta pada Agustus 2026. Menurut Qurratul, tekanan tersebut membuat sektor pangan tetap perlu mendapat perhatian meskipun inflasi secara keseluruhan masih terkendali.

"Komoditas yang menjadi penyumbang terbesar adalah daging ayam ras dengan andil 0,14 persen. Harga daging ayam ras tercatat meningkat 11,54 persen, dipengaruhi kenaikan permintaan, biaya produksi, serta koreksi harga setelah mengalami penurunan selama empat bulan sebelumnya," ucapnya.

Qurratul menjelaskan peningkatan permintaan ayam turut dipengaruhi berbagai momentum pada Agustus, termasuk HUT Kemerdekaan RI, Maulid Nabi Muhammad SAW, serta kembali meningkatnya program Makan Bergizi Gratis setelah libur sekolah. Kenaikan biaya pakan dan bibit ayam atau DOC juga memberikan tekanan terhadap harga hingga tingkat pedagang eceran.

Selain pangan, beberapa komoditas lain turut memengaruhi inflasi, seperti pelumas atau oli mesin dan sigaret kretek mesin. Sementara itu, kelompok transportasi justru mengalami deflasi sebesar 0,45 persen dengan andil deflasi 0,06 persen, antara lain dipengaruhi penurunan harga angkutan udara dan bensin.

BPS menegaskan inflasi tidak hanya menggambarkan perubahan harga makanan, tetapi seluruh barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Qurratul juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam SPKRT 2027 agar BPS memperoleh gambaran pola konsumsi rumah tangga yang semakin akurat dan relevan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....