Water Mist Jakarta Bantu Mitigasi Dampak Abu Vulkanik Krakatau
- 08 Sep 2026 16:51 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengoperasikan water mist untuk membantu memitigasi dampak sebaran abu vulkanik di sejumlah ruas jalan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan partikel abu vulkanik yang berpotensi memengaruhi kesehatan dan kualitas udara.
Kepala Seksi Publikasi Pemberdayaan Masyarakat Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Keselamatan DKI Jakarta, Saefulloh, mengatakan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau mulai bergerak menjauh dari wilayah Indonesia. Berdasarkan informasi BMKG, pergerakan tersebut terpantau pada Selasa pagi, delapan September 2026.
“Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau itu mulai bergerak menjauh wilayah Indonesia,” ujar Saefulloh dalam program Majalah Udara Live Kentongan Pro1 RRI Jakarta, Selasa (8 September 2026).
| Baca juga: Voxstream dan ADKASI Bahas Data Pemilu 2029 |
Sebaran abu vulkanik tersebut berada pada ketinggian sekitar enam ribu kaki atau setara satu koma delapan kilometer. Pergerakannya mencakup Samudra Hindia hingga wilayah barat laut Banten.
Meski bergerak menjauh, Saefulloh mengatakan dampak abu vulkanik masih perlu diwaspadai masyarakat. Partikel tersebut berpotensi menurunkan kualitas udara dan jarak pandang serta berdampak terhadap kesehatan.
Menurut Saefulloh, keputusan mengoperasikan water mist di sejumlah lokasi Jakarta dilakukan setelah rapat terbatas pada Sabtu. Penyemprotan menggunakan unit pemadam kebakaran dipilih sebagai salah satu upaya mengurangi paparan abu vulkanik di ruang publik.
“Dalam rangka untuk mengurangi paparan tersebut di fasilitas umum, terlebih yang banyak kerumunan orang, perlunya untuk penurunan itu,” katanya. Water mist disemprotkan dalam bentuk kabut air pada kawasan yang diperkirakan banyak terpapar partikel abu.
Selain membantu mengurangi paparan abu vulkanik, Saefulloh menyebut water mist juga dapat membantu mengendalikan debu dan polusi udara perkotaan. Pada Minggu, enam September 2026, penyemprotan dilakukan serentak di 26 lokasi dengan mengerahkan 126 unit dan 109 personel.
Penyemprotan kembali dilakukan pada Selasa, delapan September 2026, di 16 lokasi. Sebanyak 23 unit dan sekitar 113 personel dikerahkan dalam kegiatan tersebut untuk mengurangi dampak sebaran abu vulkanik.
Lokasi penyemprotan mencakup sejumlah kawasan di Jakarta Pusat, Selatan, Timur, Utara, dan Barat. Beberapa di antaranya berada di kawasan Gambir, Jalan Merdeka Selatan, MT Haryono, Semanggi, Jalan Pemuda, Jalan Raya Halim, Jalan Yos Sudarso, hingga kawasan Wali Kota Jakarta Barat.
Saefulloh menjelaskan, tantangan mitigasi abu vulkanik di Jakarta berkaitan dengan kondisi udara dan musim kemarau yang sedang berlangsung. Abu vulkanik dapat bercampur dengan kondisi udara perkotaan sehingga tetap berpotensi memengaruhi kesehatan dan jarak pandang.
“Walaupun saat ini adanya pergerakan abu vulkanik itu menjauh dari wilayah Indonesia, terlebih Jakarta, tetap warga masyarakat diimbau untuk senantiasa menggunakan masker,” ujar Saefulloh. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, khususnya kelompok rentan.
Ia menjelaskan, warga dapat menerapkan lima langkah untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik, yakni menggunakan masker serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah. Warga juga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan, membasahi abu sebelum dibersihkan, serta menutup tempat penyimpanan air dan makanan.
Saefulloh mengingatkan masyarakat tidak mudah percaya atau menyebarluaskan informasi mengenai kondisi bencana yang belum terverifikasi. “Tetap tenang dan waspada,” katanya, seraya meminta masyarakat merujuk informasi perkembangan Gunung Anak Krakatau dan kondisi udara dari sumber resmi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....