Industri Estetika Indonesia Tumbuh, Dokter Tekankan Pentingnya Bukti Ilmiah
- 22 Agt 2026 21:06 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan industri estetika di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berlangsung cukup pesat. Kondisi tersebut ditandai dengan bertambahnya klinik estetika, perusahaan, serta berbagai produk perawatan estetika yang hadir di tengah masyarakat.
Selain itu, perkembangan media sosial dan penggunaan influencer maupun brand ambassador turut memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi mengenai perawatan estetika. Informasi tersebut tidak jarang menjadi pertimbangan pasien dalam menentukan tindakan medis yang akan dijalani.
Kondisi ini dinilai berpotensi menggeser paradigma estetika medis dari layanan yang berorientasi pada keputusan dokter menjadi consumer driven model, yakni keputusan perawatan lebih banyak dipengaruhi permintaan dan tren konsumen.
Country Leader Nordberg Medical Indonesia, Eka Meliasari Khu mengatakan, kehadiran Nordberg Medical di Indonesia menjadi momentum untuk mendorong pemahaman masyarakat mengenai pentingnya evidence-based medicine atau praktik kedokteran berbasis bukti dalam bidang estetika.
“Nordberg Medical mengajak media untuk mengenal lebih jauh mengenai evidence-based medicine di bidang estetika guna membantu pasien mendapatkan pelayanan estetika yang bertanggung jawab,” kata Eka di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Sementara itu, Dokter spesialis dermatologi, venerologi, dan estetika sekaligus Founder BMDERMA Clinic, dr. Deasy Lius Sp.DVE, menjelaskan evidence-based medicine merupakan dasar dalam menentukan terapi atau prosedur medis dengan mempertimbangkan bukti ilmiah, keahlian dokter, serta kebutuhan dan preferensi pasien.
Menurutnya, informasi yang disampaikan influencer maupun brand ambassador dapat menjadi referensi pengalaman pribadi, tetapi tidak dapat menggantikan pertimbangan medis dari dokter.
“Pemilihan perawatan medis tentunya bukan didasarkan pada tren semata atau klaim pemasaran tanpa bukti jurnal,” kata Deasy.
Ia mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap berbagai tren perawatan yang ditawarkan melalui klinik maupun media sosial. Klaim berlebihan terhadap suatu produk, teknik penyuntikan yang belum teruji, maupun penggunaan produk tanpa dasar ilmiah berpotensi meningkatkan risiko bagi pasien.
“Estetika medis tetaplah ranah medis yang membutuhkan penanganan dokter resmi dengan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nordberg Medical juga memperkenalkan pendekatan regeneratif melalui teknologi PLLA-LASYNPRO™ yang dikembangkan perusahaan bioteknologi asal Swedia tersebut.
Nordberg Medical menyatakan pengembangan produk dan prosedur dilakukan dengan pendekatan berbasis penelitian, mulai dari diagnosis, pemilihan produk hingga prosedur terapi.
Dokter Lanny Juniarti, Dipl. AAAM, menjelaskan PLLA-LASYNPRO™ dikembangkan sebagai bio-activator kulit untuk mendukung peremajaan dan pengencangan kulit.
Menurut Lanny, karakteristik bahan dan bentuk partikelnya menjadi salah satu aspek yang diteliti dalam pengembangan teknologi tersebut. Ia menilai bukti penelitian penting untuk mengetahui bagaimana suatu bahan dapat berinteraksi dengan jaringan tubuh.
“Perawatan estetika harus melihat bagaimana kulit dan proses penuaan merespons suatu produk secara biologis, bukan hanya berdasarkan klaim pemasaran. Karena itu, bukti penelitian menjadi hal yang penting,” jelasnya.
Nordberg Medical menyatakan PLLA-LASYNPRO™ telah memperoleh izin edar dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan digunakan di lebih dari 35 negara.
Selain itu, perusahaan tersebut juga menegaskan akan terus mengembangkan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) untuk mendukung inovasi di bidang perawatan regeneratif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....