3 Hal yang Pasti Datang tapi Sering Kita Lupakan

  • 13 Agt 2026 07:57 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kita sibuk mengejar harta, pekerjaan, jabatan, dan berbagai target. Tapi ada 3 hal yang pasti datang: kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat. Pertanyaannya, sudahkah kita mempersiapkan diri sebelum ketiganya datang?

Laman NU Online yang kami akses pada Kamis, 13 Agustus 2026, menjelaskan tafsir Surat At-Takatsur ayat 1–2 sebagai peringatan agar manusia tidak terlena oleh persaingan duniawi dan melupakan kehidupan akhirat.

Penyuluh Madya Kementerian Agama Jakarta Selatan, Lilis Nurul Aflah, dalam program siaran kajian subuh, Mutiara Pagi 91,2FM Pro1 RRI Jakarta dengan tema “3 Hal yang Pasti Datangnya Tapi Manusia Melalaikannya” bilang kesibukan mengejar harta, pekerjaan, jabatan, prestasi, dan berbagai kepentingan dunia perlu diimbangi dengan persiapan untuk kehidupan setelah kematian.

Program siaran radio, Mutiara Pagi di 91,2FM Pro1 RRI Jakarta membahas tiga hal yang pasti datang tetapi sering dilupakan manusia, yakni kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat. Pembahasan bersama Penyuluh Madya Kementerian Agama Jakarta Selatan Lilis Nurul Aflah mengajak masyarakat melakukan introspeksi dan mempersiapkan bekal amal selama masih memiliki kesempatan hidup. (Foto: RRI Jakarta)
1. Kematian Pasti Datang kepada Setiap Manusia

Kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari siapa pun, tanpa membedakan usia, kondisi ekonomi, kedudukan, maupun latar belakang seseorang. Kesadaran mengenai kepastian tersebut seharusnya mendorong manusia untuk menggunakan waktu yang dimiliki dengan memperbanyak amal baik dan menjalankan ibadah.

Pesan mengenai kematian juga berkaitan dengan peringatan dalam Surat At-Takatsur ayat pertama dan kedua tentang manusia yang dapat terlena karena berlomba memperbanyak urusan dunia hingga akhirnya masuk ke dalam kubur. NU Online dalam kajian tafsir surat tersebut menjelaskan bahwa kesibukan mengejar harta dan kebanggaan dunia dapat membuat manusia berpaling dari hal-hal yang lebih penting dalam kehidupan akhirat.

Dalam tafsir yang dikutip NU Online, ulama Al-Khazin memberikan nasihat agar orang beriman mendahulukan aktivitas yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. “Maka seyogianya orang mukmin yang berakal menjadikan usaha dan kesibukannya untuk mendahulukan hal yang terpenting, yaitu melakukan aktivitas yang dapat mendekatkannya kepada Allah,” demikian penjelasan Al-Khazin yang dikutip NU Online.

Peringatan tersebut relevan dengan kehidupan sehari-hari ketika manusia sering mengukur keberhasilan dari kepemilikan harta, jabatan, popularitas, maupun pencapaian tertentu. Padahal, semua hal tersebut tidak akan dibawa ketika seseorang meninggalkan dunia dan memasuki kehidupan setelah kematian.

Ilustrasi sejumlah umat Muslim melaksanakan salat di dalam masjid sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Ibadah dan amal kebaikan menjadi salah satu bentuk persiapan manusia dalam menghadapi kehidupan setelah dunia.(Foto: Defrino Maasy/pexels)
2. Hari Kiamat Menjadi Kepastian dalam Kehidupan

Hal kedua yang perlu diingat adalah datangnya hari kiamat sebagai bagian dari keyakinan dalam ajaran Islam. Hari tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia tidak berhenti ketika kehidupan dunia berakhir.

Menurut penjelasan Syekh Nawawi Banten yang dikutip NU Online, persaingan dalam memperbanyak harta, prestasi, dan pengikut dapat membuat manusia sibuk serta melupakan persiapan menghadapi hari kiamat. “Bersaing untuk saling mengalahkan dengan prestasi, banyaknya harta, banyaknya pengikut atau pengikut telah menyibukkan kalian,” demikian penjelasan yang dimuat NU Online.

Peringatan tersebut tidak berarti manusia dilarang bekerja, memiliki harta, atau mengejar prestasi. Persoalannya adalah ketika berbagai pencapaian tersebut membuat seseorang melupakan kewajiban beribadah, mengabaikan sesama, atau menempatkan urusan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.

3. Kehidupan Akhirat Menjadi Pertanggungjawaban

Hal ketiga adalah kehidupan akhirat yang menjadi tempat manusia mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya. Kehidupan dunia dipandang sebagai kesempatan untuk mempersiapkan bekal melalui ibadah, amal saleh, dan perbuatan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

NU Online mengutip penjelasan Al-Khazin mengenai tiga hal yang mengikuti seseorang setelah meninggal, yakni keluarga, harta, dan amal. “Harta dan keluarganya akan kembali, sedangkan amalnya akan terus tetap bersamanya,” demikian hadis yang dikutip dalam pembahasan tafsir tersebut.

Pesan tersebut memberikan gambaran bahwa kepemilikan dunia pada akhirnya memiliki batas. Keluarga dapat mengantar seseorang sampai pemakaman dan harta dapat ditinggalkan kepada ahli waris, sedangkan amal menjadi bagian dari pertanggungjawaban manusia setelah meninggal.

Lilis dalam siaran radio juga mengajak masyarakat melakukan introspeksi terhadap cara menjalani kehidupan. Kesibukan bekerja, mengejar harta, jabatan, dan kesenangan dunia hendaknya tidak membuat seseorang lupa menggunakan waktu untuk beribadah dan berbuat baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....