Menembus Pekatnya Bau Limbah, Aksi 'Detektif' Wanita Ungkap Polusi
- 28 Jul 2026 07:29 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Warga bernama samaran Dewi di Cilincing, Jakarta Utara mengalami gangguan bau menyengat menyerupai minyak jelantah selama lebih dari satu tahun yang diduga berasal dari kawasan industri.
- Keluhan berkelanjutan mendorong Dewi untuk melakukan investigasi mandiri guna melacak sumber pencemaran yang diduga mengganggu kesehatan keluarga dan kenyamanan warga sekitar.
- Pencemaran bau tersebut telah mengubah rutinitas harian warga, membuat aktivitas sederhana seperti membuka jendela rumah di pagi hari menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Bagi Dewi nama samaran, membuka jendela rumah setiap pagi bukan lagi cara menikmati udara segar. Selama lebih dari satu tahun terakhir, ia justru disambut bau menyengat menyerupai minyak jelantah yang diduga berasal dari kawasan industri di Cilincing, Jakarta Utara.
Keluhan yang terus berulang membuat perempuan yang tinggal di Jalan Bakti, RT 10 RW 05, Kelurahan Cilincing, itu memilih tidak sekadar mengeluh. Ia berubah menjadi "detektif" bagi lingkungannya sendiri, menelusuri asal bau yang menurutnya telah mengganggu kesehatan keluarganya sekaligus kenyamanan warga sekitar.
Enam Bulan Menelusuri Jejak Bau
Pencarian itu tidak dilakukan dalam sehari. Selama kurang lebih enam bulan, Dewi berkeliling menggunakan sepeda motor hingga mobil mengikuti arah datangnya bau yang paling kuat.
Ia mengamati waktu kemunculan aroma menyengat, membandingkan arah angin, hingga menyusuri kawasan industri yang berada tidak jauh dari permukiman warga.
Dari penelusuran tersebut, ia menduga bau berasal dari aktivitas pengolahan limbah di kawasan KBN Cilincing yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.
Tak berhenti di lapangan, Dewi juga menelusuri informasi melalui situs resmi perusahaan. Ia menemukan indikasi bahwa sertifikasi pengolahan limbah perusahaan tersebut diduga telah kedaluwarsa sejak beberapa tahun lalu, meski temuan itu masih memerlukan verifikasi dari instansi berwenang.
"Saya di rumah setiap pagi berharap buka jendela itu udara segar yang masuk. Ternyata baru lima menit dibuka, baunya seperti minyak jelantah yang sudah lama," ujar Dewi.
Ketika Udara Bersih Menjadi Kemewahan
Untuk mengurangi dampak bau, Dewi memasang tiga mesin pemurni udara di rumahnya. Namun, alat tersebut justru memperlihatkan kondisi kualitas udara yang menurutnya mengkhawatirkan.
Ia mengatakan lampu indikator pada air purifier hampir setiap hari berubah menjadi merah hingga ungu, menandakan kualitas udara berada pada tingkat yang buruk.
Menurut Dewi, persoalan ini bukan hanya soal bau yang mengganggu kenyamanan, tetapi juga menyangkut kesehatan. Ia mengaku mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA, meski selama ini berusaha menjaga pola hidup sehat.
Aduan Berlanjut ke Pemerintah
Keluhan warga kemudian disampaikan secara berjenjang melalui RT, RW hingga Lembaga Musyawarah Kelurahan atau LMK. Laporan tersebut akhirnya ditindaklanjuti oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara.
Beberapa waktu lalu, petugas bersama laboratorium terakreditasi melakukan pengujian kebauan di sekitar rumah Dewi untuk mengidentifikasi dugaan pencemaran udara yang dikeluhkan warga.
"Untuk hasilnya masih menunggu beberapa minggu lagi," ujar Dewi.
Dipanggil Camat Bersama Pihak Pabrik
Perkembangan terbaru terjadi setelah proses pengambilan sampel udara dilakukan. Dewi mengungkapkan dirinya baru saja dipanggil oleh pihak kecamatan untuk menghadiri pertemuan bersama pihak perusahaan yang diduga menjadi sumber bau.
Pertemuan tersebut difasilitasi pihak kecamatan sebagai tindak lanjut atas pengaduan warga dan proses pengujian yang dilakukan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara.
Meski demikian, Dewi mengatakan hingga kini warga masih menunggu hasil resmi uji laboratorium yang diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai sumber bau yang selama ini mereka rasakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....