Indonesia Perkuat Perspektif Kepulauan Melalui Konferensi Internasional
- 21 Jul 2026 19:13 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Konferensi Internasional bertajuk 'Archipelagic Flows' merupakan gabungan penyelenggaraan The 6th Critical Island Studies (CIS) dan The 31st Performance Studies International (PSi) yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia. Kegiatan tersebut menegaskan pentingnya penguatan kajian kepulauan sebagai landasan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
Penyelenggaraan konferensi tersebut menjadi hasil kolaborasi global antara Critical Island Studies, Performance Studies International, dan Universitas Kristen Indonesia. Sebanyak lebih dari 350 akademisi, seniman, serta aktivis dari 35 negara hadir memperkaya kajian ilmiah mengenai ekologi, lingkungan kepulauan, dan kawasan laut dunia.
President Critical Island Studies, Prof. Maria Luisa Torres Reyes, mengatakan kolaborasi internasional tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak perubahan iklim dan degradasi sumber daya alam di wilayah kepulauan. Menurutnya, sinergi lintas disiplin menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
"Konferensi internasional ini mempertemukan para akademisi, ahli, praktisi berbagai interdisipliner ilmu untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan dalam upaya menjaga keberlangsungan kelestarian alam di planet bumi," ujar Maria Luisa Torres Reyes, Sabtu (18 Juli 2026).
Maria menjelaskan sejumlah persoalan yang menjadi perhatian meliputi terusirnya masyarakat adat pesisir dari wilayah tempat tinggalnya hingga kerusakan terumbu karang yang mengancam ekologi laut. Ia menegaskan konferensi tersebut juga menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan kepulauan sekaligus memperjuangkan hak-hak masyarakat pesisir.
Sementara itu, Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa UKI, Susanne A.H. Sitohang, menyampaikan keberhasilan konferensi tingkat dunia itu merupakan hasil kerja sama berbagai pihak. Dukungan penuh civitas akademika UKI dinilai menjadi faktor penting dalam penyelenggaraan kegiatan berskala internasional tersebut.
"Melalui konferensi internasional ini, setiap peserta dapat bertukar gagasan serta belajar dari perbedaan satu sama lain. Saya berharap konferensi ini dapat menjadi agen perubahan kecil yang membawa kita menuju dunia yang lebih baik," kata Susanne.
Susanne juga memperkenalkan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 700 bahasa. Menurutnya, setiap pulau di Indonesia menyimpan kekayaan budaya yang tercermin melalui tarian, rumah adat, pakaian tradisional, dan beragam kearifan lokal.
Salah satu pembicara utama, Dr.rer.pol. Ied Veda Sitepu, S.S., M.A., mengangkat tema mengenai hak perempuan nelayan pesisir atas akses ekonomi dari perspektif keadilan hukum dan kesetaraan gender. Ia menilai perempuan nelayan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian keluarga dan masyarakat pesisir melalui berbagai aktivitas perikanan.
"Perempuan nelayan memegang peranan vital dalam menopang perekonomian rumah tangga dan masyarakat pesisir melalui keterlibatan mereka dalam perikanan tangkap, pengolahan ikan, pemasaran, serta distribusi produk perikanan. Namun, perempuan nelayan masih kurang diakui sebagai pelaku ekonomi dan tetap terpinggirkan dalam tata kelola perikanan," jelas Ied Veda Sitepu.
Ied menilai pengakuan hukum terhadap perempuan nelayan masih bersifat formal sehingga belum mampu menghadirkan perlindungan dan akses ekonomi yang setara. Ia mendorong pemerintah merevisi regulasi agar perempuan nelayan diakui secara eksplisit sebagai pelaku perikanan, sekaligus memperkuat kebijakan afirmatif dan pengarusutamaan gender dalam seluruh program pembangunan sektor perikanan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....