Program Konselor Remaja Dinilai Penting untuk Kesehatan Mental
- 26 Mei 2026 11:10 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Program konselor remaja dinilai penting untuk membantu generasi muda memiliki ruang aman berbagi cerita, meningkatkan empati, dan menjaga kesehatan mental di lingkungan sekolah maupun komunit
RRI.CO.ID, Jakarta: Tidak semua remaja nyaman bercerita kepada orang tua atau guru ketika menghadapi masalah. Ada yang memilih diam, memendam tekanan, bahkan merasa sendirian di tengah lingkungan yang ramai. Dari kondisi itulah peran konselor remaja dinilai semakin penting hadir di sekolah maupun komunitas.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program “Obrolan Komunitas” RRI Pro 1 Jakarta, Senin malam, 25 Mei 2026, dengan tema “Mengembangkan Program Konselor Remaja untuk Sekolah dan Komunitas.” Dialog menghadirkan Lisnani Sukaidawati, pelatih konselor remaja dari Komunitas Kita Orang Biasa, bersama host Bams Hari.
Dalam dialog tersebut, Lisnani menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase penting pembentukan karakter sekaligus periode yang rentan terhadap tekanan emosional dan sosial. Karena itu, pendampingan yang tepat sangat dibutuhkan agar remaja mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, peduli, dan mampu menyelesaikan masalah secara positif.
Menurutnya, kehadiran konselor sebaya menjadi salah satu pendekatan yang efektif karena remaja cenderung lebih nyaman berbicara dengan teman seusia mereka. Melalui komunikasi yang lebih terbuka, remaja dapat belajar memahami diri sendiri, meningkatkan empati, sekaligus membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
“Remaja sering merasa tidak dipahami. Padahal mereka hanya membutuhkan ruang aman untuk didengar tanpa dihakimi,” ujar Lisnani dalam perbincangan tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan sekolah dan lingkungan sekitar dalam membangun program konselor remaja yang berkelanjutan. Sebab, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak hanya datang dari lingkungan pergaulan, tetapi juga tekanan media sosial, perubahan gaya hidup, hingga persoalan kesehatan mental yang semakin kompleks.
Melalui program konselor remaja, Lisnani berharap anak-anak muda tidak hanya menjadi pendengar yang baik bagi temannya, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan positif di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Dialog berlangsung hangat dan interaktif. Pendengar turut diajak memahami bahwa konselor remaja bukan berarti menggantikan peran psikolog profesional, melainkan menjadi jembatan awal agar remaja memiliki tempat bercerita dan dukungan emosional yang sehat.
Dengan pendekatan yang lebih dekat dan humanis, program konselor remaja diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah dan komunitas yang lebih peduli terhadap kesehatan mental generasi muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....