Niat Puasa Qadha Raih Keutamaan Dzulhijjah Sekaligus
- 22 Mei 2026 14:59 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Banyak muslim masih keliru meniatkan puasa qadha di bulan Dzulhijjah, padahal aturan fikih membuka peluang meraih pahala sunnah sekaligus.
Praktik menggabungkan puasa qadha dengan puasa sunnah Dzulhijjah ternyata memiliki dasar penjelasan dari para ulama. Sejumlah keterangan dalam literatur fikih menyebut, orang yang mengganti puasa Ramadhan pada hari-hari utama Dzulhijjah tetap berpeluang memperoleh keutamaan puasa sunnah.
Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam. Pada sepuluh hari pertama bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, termasuk puasa sunnah.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah Saw menyebut tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beramal saleh dibanding sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Hadis itu menjadi dasar mengapa banyak umat Islam berlomba menjalankan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah.
Namun, di tengah semangat menjalankan puasa sunnah, sebagian Muslim masih memiliki utang puasa Ramadhan yang belum ditunaikan. Kondisi itu kemudian memunculkan dilema: mendahulukan puasa qadha atau mengejar pahala sunnah Dzulhijjah.
Dalam artikel NU Online Jawa Tengah berjudul Niat Qadha Puasa Ramadhan, Dapat Pahala Sunnah Dzulhijjah, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Alhafiz Kurniawan, menjelaskan qadha puasa tetap sah meski dilakukan bertepatan dengan puasa sunnah Dzulhijjah.
“Qadha puasa Ramadhannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunnah Arafah,"ujar Alhafiz dalam keterangannya yang dikutip NU Online.
Pandangan itu memperlihatkan adanya ruang kemudahan dalam ibadah. Sejumlah ulama memandang seseorang tetap memperoleh pahala momentum ibadah meskipun niat utamanya adalah menunaikan kewajiban qadha puasa Ramadhan.
Berikut lafal niat qadha puasa Ramadhan sebagaimana dikutip dari tulisan berjudul Cara Membayar Utang Puasa Ramadhan, dengan penulis adalah ustad Muhamad Sunandar, Alumni Universitas Al-Ahgaff Yaman seperti dimuat di laman nu.or.id.
Berikut bacaan niat puasa qadha Ramadhan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
Ustadz Sunandar juga memberikan alternatif niat yang lebih ringkas sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ قَضَاءِ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma qadhā’i Ramadhāna.
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Ramadhan.”
Sunandar mengingatkan niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari. Waktunya dimulai sejak matahari terbenam hingga sebelum terbit fajar.
“Karena qadha termasuk puasa wajib, maka niatnya tidak boleh dilakukan setelah fajar,” ucap Sunandar.
Berbeda dengan puasa sunnah Dzulhijjah yang masih diperbolehkan berniat pada siang hari sebelum Zuhur selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa. Ketentuan ini menjadi pembeda penting antara puasa wajib dan sunnah yang sering tidak dipahami masyarakat.
Dalam penjelasan lain di NU Online, alumnus Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Muhamad Abror, menyebut puasa Dzulhijjah memiliki sejumlah keutamaan besar. Salah satunya ialah pelipatgandaan pahala amal ibadah.
Hadis riwayat Tirmidzi menyebut satu hari puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah setara dengan puasa sunnah selama satu tahun. Sementara khusus puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, Rasulullah SAW menyebut pahala penghapusan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Abror juga mengutip pendapat Sayyid Bakri Syatha dalam I’anah at-Thalibin yang menjelaskan seseorang tetap dapat memperoleh pahala puasa Arafah meski hanya berniat qadha Ramadhan.
Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa ibadah qadha bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Di momentum Dzulhijjah, qadha puasa justru dapat menjadi jalan memperoleh keutamaan ibadah sunnah sekaligus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....