Istiqomah usai Ramadhan Tetap Menyala

  • 05 Apr 2026 11:10 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Ramadhan adalah madrasah iman yang melatih jiwa dengan berbagai amal: qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, i’tikaf, dan sedekah. Namun, ujian sesungguhnya justru dimulai setelah bulan itu berlalu. Jangan sampai kita menjadi seperti perumpamaan dalam Al-Qur’an, yaitu seseorang yang merusak kembali apa yang telah ia bangun. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92).

Di bulan Ramadhan, Allah membuka pintu-pintu ketaatan dan melipatgandakan pahala. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu’adz bin Jabal:

أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai.” (HR. Tirmidzi). Puasa menjadi benteng dari api neraka dan penjaga diri dari maksiat. Maka, semangat ini seharusnya tidak padam setelah Ramadhan berakhir.

Setelah Ramadhan, kita memasuki bulan-bulan yang dimuliakan, termasuk bulan-bulan haram. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا... مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ... فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram… maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36). Jumhur ulama salaf menjelaskan bahwa dosa di bulan-bulan haram lebih berat, sebagaimana ketaatan juga lebih besar pahalanya.

Istiqomah adalah perkara agung yang berkaitan erat dengan hati. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ

“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hati yang bersih akan melahirkan amal yang konsisten, sedangkan hati yang rusak akan mudah goyah setelah Ramadhan.

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Para sahabat mendapatkan keutamaan bukan karena banyaknya amal semata, tetapi karena apa yang menetap dalam hati mereka.” Ini menunjukkan bahwa kekuatan istiqomah terletak pada keimanan yang dalam dan keikhlasan yang kokoh. Amal yang kecil namun terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal besar yang terputus.

Allah Ta’ala juga menjanjikan keutamaan bagi orang yang bertakwa:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Talaq: 5). Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي

“Janganlah kalian mencela para sahabatku.” (HR. Bukhari dan Muslim), karena mereka adalah teladan dalam istiqomah dan keikhlasan.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa istiqomah dibangun di atas dua perkara utama: pertama, kecintaan kepada Allah harus mengalahkan cinta kepada selain-Nya—baik harta, keluarga, maupun diri sendiri. Kedua, mengagungkan perintah dan larangan Allah, yang lahir dari pengagungan kepada-Nya. Inilah kunci agar cahaya Ramadhan tetap menyala dalam kehidupan sepanjang tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....