Kontinuitas Amal Pasca Ramadan, Kunci Menjaga Kebersihan Jiwa
- 30 Mar 2026 08:51 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Konsistensi amal setelah Ramadan menjadi kunci utama dalam menjaga kebersihan jiwa dan keberlanjutan nilai ibadah.
RRI.CO.ID, Jakarta – Suasana Ramadan mungkin telah berlalu, tetapi pertanyaannya, apakah semangatnya ikut hilang? Dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Jakarta, Senin 30 maret 2026, perbincangan hangat membuka refleksi tentang bagaimana menjaga amal tetap hidup setelah bulan suci berakhir.
Dipandu oleh penyiar Farid Kurniawan, dialog terasa mengalir ringan namun penuh makna. Ia mengajak pendengar untuk tidak hanya mengenang Ramadan sebagai momen, tetapi menjadikannya sebagai titik awal perubahan.
Narasumber Yusnelma Eka Afri, Lc., M.Hum dari WAZIN (Organisasi Perempuan Alumni Al Azhar Mesir), mengingatkan bahwa Ramadan sejatinya adalah proses latihan. Bukan sekadar ibadah yang berhenti dalam satu bulan, tetapi bekal untuk perjalanan panjang setelahnya.
| Baca juga: Istiqomah usai Ramadhan Tetap Menyala |
“Ramadan itu seperti madrasah. Kita dilatih selama satu bulan, lalu diuji setelahnya,” ujarnya dalam perbincangan tersebut, Senin.
Ia menjelaskan, dalam perspektif tazkiyatun nafs, menjaga kebersihan jiwa bukanlah sesuatu yang instan. Proses ini membutuhkan konsistensi, bahkan dalam hal-hal sederhana yang seringkali terabaikan.
Menurutnya, justru amal kecil yang dilakukan terus-menerus memiliki kekuatan besar. Seperti membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, hingga bersikap baik kepada sesama.
Dalam suasana dialog yang hangat, Farid Kurniawan juga mengajak pendengar untuk merenungkan kebiasaan pasca Ramadan. Apakah ibadah yang selama ini dijaga masih bertahan, atau perlahan mulai ditinggalkan.
Yusnelma menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan saat menjalani Ramadan, melainkan setelahnya. Ketika suasana sudah kembali normal, di situlah konsistensi benar-benar diuji.
Ia juga menyoroti pentingnya lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang baik akan membantu seseorang tetap istiqamah, sementara lingkungan yang kurang kondusif bisa membuat semangat ibadah perlahan memudar.
Pada akhirnya, Ramadan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Amal yang terus dijaga menjadi tanda bahwa Ramadan benar-benar meninggalkan jejak dalam diri.
Dan seperti yang terasa dalam obrolan pagi itu, menjaga nyala Ramadan bukan tentang melakukan hal besar, tetapi tentang tidak berhenti melakukan kebaikan, sekecil apa pun itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....