Perempuan Berdaya, Pilih Kontrasepsi tanpa Terjebak Mitos

  • 14 Sep 2026 11:03 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Pemilihan kontrasepsi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan dan rencana keluarga.
  • Mitos dan informasi keliru tentang kontrasepsi perlu diluruskan melalui sumber kesehatan yang terpercaya.
  • Perencanaan keluarga mendukung kesehatan ibu, anak dan kualitas kehidupan keluarga.

RRI.CO.ID, Jakarta - Bagi banyak perempuan, keputusan menggunakan kontrasepsi bukan sekadar memilih alat atau metode untuk mencegah kehamilan. Di baliknya ada pertanyaan tentang kesehatan, kenyamanan, rencana memiliki anak, hingga masa depan keluarga.

Sayangnya, pembicaraan tentang kontrasepsi masih sering dibayangi mitos. Ada yang khawatir kontrasepsi pasti menyebabkan kenaikan berat badan, menganggap semua metode memiliki efek samping yang sama, hingga beranggapan penggunaan kontrasepsi dapat menyebabkan sulit hamil selamanya.

Padahal, pilihan kontrasepsi sangat beragam dan kebutuhan setiap perempuan tidak selalu sama. Karena itu, informasi yang benar menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam program Beranda Asta Cita, subprogram Perempuan Berdaya, RRI Pro 1 Jakarta, Senin, 14 September 2026. Mengangkat tema “Perempuan Berdaya, Keluarga Terencana: Kupas Tuntas Fakta, Mitos dan Pilihan Kontrasepsi”, dialog dipandu presenter Dede Firdaus.

Hadir sebagai narasumber Riani, S.ST, Konselor Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi Pusat Pelayanan Keluarga (PUSPA) Jakarta, serta Arini Khoirunnisa, Ketua Subkelompok Pelayanan Keluarga Berencana Kesehatan Reproduksi Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta.

Riani menjelaskan, perempuan perlu mendapatkan informasi yang utuh sebelum menentukan metode kontrasepsi. Menurutnya, tidak ada satu metode yang otomatis cocok untuk semua orang.

“Setiap perempuan memiliki kondisi kesehatan, kebutuhan dan pertimbangan yang berbeda. Karena itu, pemilihan kontrasepsi sebaiknya dilakukan berdasarkan informasi yang benar dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.”

Pandangan tersebut sejalan dengan WHO yang menyebut pilihan kontrasepsi perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan dan preferensi masing-masing individu. WHO juga menegaskan berbagai metode kontrasepsi tersedia, baik yang bersifat sementara maupun permanen.

Arini Khoirunnisa menyoroti pentingnya perencanaan keluarga sebagai bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat dan berkualitas.

“Kontrasepsi bukan hanya soal mencegah kehamilan. Perencanaan keluarga membantu pasangan menentukan kapan ingin memiliki anak, mengatur jarak kehamilan dan mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu serta keluarga.”

Kementerian Kesehatan juga menempatkan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak sekaligus membantu pasangan mengatur kehamilan.

Dalam dialog tersebut, pembahasan mengenai mitos juga menjadi penting. Informasi yang beredar dari lingkungan sekitar maupun media sosial tidak selalu sesuai dengan kondisi medis.

“Jangan mengambil keputusan hanya karena mendengar pengalaman orang lain. Apa yang dirasakan seseorang saat menggunakan kontrasepsi belum tentu sama dengan perempuan lainnya. Yang paling penting adalah mendapatkan informasi dari sumber yang terpercaya.”

WHO mencatat bahwa kekhawatiran terhadap efek samping dan informasi yang keliru memang dapat menjadi hambatan dalam penggunaan kontrasepsi. Karena itu, konseling dan informasi yang berbasis bukti menjadi penting agar perempuan dapat menentukan pilihan secara sadar.

Pilihan metode pun cukup beragam, mulai dari pil, suntik, implan, IUD hingga metode lainnya. Masing-masing memiliki cara kerja, kelebihan, keterbatasan dan pertimbangan medis yang berbeda. WHO merekomendasikan pemilihan metode dilakukan setelah dipastikan sesuai secara medis.

“Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang memiliki pengetahuan dan mampu mengambil keputusan untuk dirinya secara bertanggung jawab. Dalam hal kesehatan reproduksi, jangan takut bertanya dan jangan malu berkonsultasi.”

Pada akhirnya, keluarga berencana bukan hanya tentang berapa jumlah anak yang ingin dimiliki. Lebih jauh, perencanaan keluarga berbicara tentang kesiapan, kesehatan, kualitas pengasuhan dan masa depan keluarga.

Melalui Perempuan Berdaya, Beranda Asta Cita RRI Pro 1 Jakarta mengajak masyarakat membicarakan kontrasepsi secara terbuka, berbasis informasi yang benar, sekaligus mendorong perempuan dan keluarga mengambil keputusan kesehatan reproduksi secara bijak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....