Inflasi Jakarta Terkendali Dorong Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
- 14 Jan 2026 18:23 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Badan Pusat Statistik Daerah Khusus Jakarta mencatat inflasi sepanjang tahun 2025 sebesar 2,63 persen, yang masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 persen plus minus satu persen. Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanuddin, menyebut kondisi tersebut menunjukkan stabilitas harga di ibu kota masih terjaga dengan baik dibandingkan daerah lain.
“Inflasi Jakarta ini tercatat 2,63 persen dan masih berada pada rentang inflasi yang terkendali sesuai target nasional,” ucap Nurul Hasanuddin saat dialog di RRI Pro 1 Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Ia menambahkan, inflasi Jakarta juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen pada periode yang sama. Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari kelancaran distribusi barang dan ketersediaan stok di pasar.
“Distribusi yang lancar dan persediaan barang yang cukup membuat harga-harga di Jakarta relatif terkendali,” katanya.
Sepanjang tahun 2025, pergerakan inflasi Jakarta tercatat berfluktuasi akibat perubahan berbagai tarif dan harga komoditas strategis. Kenaikan tarif air minum, penyesuaian tarif listrik, serta lonjakan harga emas perhiasan menjadi beberapa faktor utama pendorong inflasi.
Selain itu, harga pangan seperti daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit juga memberi kontribusi signifikan terhadap kenaikan indeks harga konsumen. BPS DKI Jakarta juga mencatat adanya periode deflasi pada awal tahun, khususnya pada Januari dan Februari 2025.
Namun, memasuki triwulan akhir, inflasi kembali meningkat seiring naiknya aktivitas ekonomi dan permintaan masyarakat. “Memang ada bulan-bulan deflasi, tetapi pada September hingga Desember kita melihat inflasi kembali muncul seiring meningkatnya konsumsi,” ujar Nurul Hasanuddin.
Dari sisi investasi, kinerja ekonomi Jakarta turut ditopang oleh pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto atau PMTB yang mencapai 3,67 persen sepanjang 2025. Kontribusi PMTB terhadap perekonomian Jakarta tercatat sekitar 34 persen, menandakan peran investasi fisik yang sangat kuat.
“PMTB menggambarkan investasi bangunan, mesin, hingga peralatan yang digunakan dalam proses produksi, dan kontribusinya di Jakarta sangat besar,” ucapnya.
Struktur PMTB Jakarta masih didominasi oleh investasi bangunan, terutama sektor konstruksi dan infrastruktur. Pada 2024, porsi PMTB bangunan bahkan mencapai hampir 75 persen dari total PMTB Jakarta. Kondisi ini menunjukkan pembangunan fisik dan pengembangan kawasan masih menjadi motor utama pertumbuhan investasi di ibu kota. Meski investasi asing masih lebih kecil dibandingkan investasi domestik, Jakarta tetap dipandang menarik bagi para investor.
Sektor jasa, perdagangan, dan industri kreatif menjadi daya tarik utama sebagai karakter Jakarta sebagai kota global. “Investasi domestik dan asing bisa saling membahu untuk mendorong pembangunan ekonomi Jakarta secara berkelanjutan,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....