Sinergi Kebijakan Lintas Sektor Jaga Ketahanan Energi Nasional

  • 14 Jan 2026 13:59 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Dewan Energi Nasional (DEN) memaparkan Outlook Energi Nasional 2026 mengenai arah kebijakan energi nasional (KEN). Berdasarkan PP Nomor 40 Tahun 2025, ada tujuh point untuk mencapai ketahanan energi di dalam negeri.

Perubahan arah kebijakan dalam pembaharuan KEN itu antara lain Grand Strategy untuk meningkatkan kedaulatan, kemandirian dan ketahanan energi dalam transisi energi. Transisi energi mencapai puncak emisi di 2035 dan net zero emission pada tahun 2060 dimana target bauran EBT tahun 2030 sebesar 19% - 23% dan tahun 2060 sebesar 70% - 72%.

Pendanaan untuk dekarbonisasi sektor energi dan ketahanan energi melalui APBN, APBD dan sumber lain nasional maupun internasional. Dukungan pembiayaan untuk BU serta kompensasi untuk BUMN dalam program transisi energi dan ketahanan energi.

“Partisipasi masyarakat dalam pendanaan dekarbonisasi energi dan ketahanan energi. Penyiapan dan peningkatan kemampuan SDM dalam program transisi energi serta Kerja sama dan diplomasi energi tingkat internasional untuk memperkuat posisi keenergian Indonesia,” ujar Dadan Kusdiana, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional dalam diskusi “Kaleidoskop Energi: Refleksi Isu Energi 2025 dan Outlook 2026” yang digelar Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) di The Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan, Selasa, (13/1/2026).

Dadan menyampaikan, sasaran Kebijakan Energi Nasional yakni, mewujudkan ketahanan energi dengan menjaga keamanan, pasokan dan keterjangkauan. Selain itu, pemenuhan kebutuhan energi yang rasional untuk mencapai target Human Development Index (HDI) dan ekonomi tinggi sebagai negara maju.

“Yang terakhir terwujudnya dekarbonisasi dan transisi energi untuk mencapai Peak Emission tahun 2035 dan Net Zero Emission tahun 2060,” katanya.

Untuk itu, Dadan menekankan pentingnya sinergi kebijakan lintas sektor dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global, transisi energi, serta tantangan geopolitik dan ekonomi internasional.

Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center, Dr. Filda C. Yusgiantoro, dalam paparannya mengenai Isu Energi 2025, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi periode penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia.

“Tantangan energi tidak hanya terkait pasokan dan harga, tetapi juga menyangkut keberlanjutan, keamanan nasional, dan daya saing ekonomi Indonesia ke depan,” ujarnya.

Paparan Outlook Energi Nasional 2026 yang dihadiri ratusan peserta menyoroti proyeksi kebutuhan energi, arah kebijakan bauran energi, serta prioritas strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Diskusi kemudian diperkaya dengan tanggapan dari perwakilan Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Luar Negeri, serta Pertamina Energy Institute, yang menyoroti keterkaitan isu energi dengan pembangunan nasional, diplomasi energi, dan transformasi sektor energi.

Acara Kaleidoskop Energi 2025 merupakan bagian dari agenda diseminasi tahunan PYC yang mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari kementerian dan lembaga, BUMN, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil dan think tank di bidang energi. Melalui acara ini, PYC berharap forum ini dapat menjadi ruang dialog yang konstruktif dan berbasis kajian untuk mendukung perumusan kebijakan energi nasional yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....