Kearifan Lokal, Strategi Menuju Indonesia Bebas Kemiskinan 2026
- 21 Nov 2025 21:13 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Angka kemiskinan Indonesia per Maret 2025 berada di 8,47% atau setara dengan 23,85 juta penduduk. Meski angka ini terendah sejak krisis 1998, laju penurunan mulai melambat.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem hingga 0% pada 2026, sebuah target ambisius yang menuntut kerjasama lintas sektor.
Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Iwan Sumule mengatakan, pengentasan kemiskinan tidak bisa hanya mengandalkan bantuan sosial.

"Kami mengusung pendekatan graduasi kemiskinan, yang tidak hanya memberi bantuan, tetapi membekali masyarakat agar mandiri," ujar Iwan usai pemaparan materi dalam Seminar Nasional bertema "Ketahanan Pangan sebagai Pilar Pengentasan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal" bersama Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, di Auditorium Kampus Salemba, Jakarta, Jum'at (21/11/2025).
Untuk mencapai target tersebut, pendekatan yang dilakukan mencakup empat pilar, yakni pemenuhan kebutuhan dasar, penciptaan pendapatan, pemberdayaan dan peningkatan tabungan atau investasi.
Iwan Sumule menyampaikan, seminar ini bukan sekedar forum akademik, tetapi wadah strategis untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan praktik terbaik dalam upaya pengentasan kemiskinan.
"Tema yang diangkat mencerminkan urgensi bagaimana ketahanan pangan yang selama ini dianggap isu teknis, sesungguhnya menjadi fondasi bagi kesejahteraan dan ketahanan nasional," katanya.
Salah satu sorotan seminar adalah pemanfaatan kearifan lokal dalam menciptakan ketahanan pangan. Sistem Subak di Bali, misalnya, bukan sekadar teknologi irigasi, tetapi filosofi hidup berbasis harmoni. Melalui pengelolaan air yang adil dan gotong royong, Subak mampu menjaga Bali tetap surplus beras meski lahan terbatas.
| Baca juga: Pemkot Jakarta Utara, Dorong UMKM Naik Kelas |
Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya menjelaskan, kearifan lokal sejak Adi luhung zaman dahulu sangat berkorelasi dengan kebutuhan pangan. Subak adalah warisan leluhur sejak abad ke-11 dan hingga kini tetap menjadi sistim yang adil, gotong royong, serta menjaga keseimbangan alam.
"Saya berharap Subak dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mendukung visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto," ucap I Komang Gede Sanjaya.

Dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat, praktik persawahan tradisional, penyimpanan pangan, dan kuliner fermentasi seperti dadiah menjadi contoh bagaimana nilai budaya dapat menopang ketahanan pangan.
"Forum ini penting untuk memperkuat langkah menuju target Zero extreme poverty pada 2026," ujar Bupati Solok, Jon Firman Pandu.

Pada kesempatan yang sama, Direktur SPPB UI, Prof. Dr. Supriatna, M.T., menegaskan pentingnya sinergi antara akademisi dan pemerintah.
"Universitas memiliki peran strategis dalam menyediakan basis pengetahuan dan riset untuk kebijakan yang berkelanjutan,” katanya.
Diskusi interaktif ini diharapkan lahir rekomendasi kebijakan dan jejaring kolaboratif untuk memperkuat ketahanan pangan sebagai pilar pengentasan kemiskinan.
“Kami ingin hasil seminar ini menjadi rujukan nyata bagi pemerintah dan masyarakat,” ucap Iwan Sumule.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....