Hindari Macet Mudik, Pelaut Ini Pulang Kampung Naik Perahu
- 17 Mar 2026 09:17 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Pelaut asal Muara Gembong memilih mudik menggunakan perahu tradisional untuk menghindari kemacetan darat.
- Jalur laut dinilai lebih cepat dan murah dibandingkan perjalanan darat menuju wilayah pesisir Bekasi.
- Moda transportasi perahu tradisional masih menjadi andalan masyarakat pesisir utara Jawa Barat.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kemacetan panjang yang kerap mengiringi musim mudik membuat sebagian warga mencari jalur alternatif untuk pulang ke kampung halaman. Bagi Wardani (35), pelaut asal Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, perjalanan melalui jalur laut justru menjadi pilihan paling praktis dan ekonomis.
Alih-alih menempuh perjalanan darat yang rawan macet, Wardani memilih menggunakan perahu kayu tradisional untuk membawa istri dan kedua anaknya pulang ke kampung halaman. Cara ini bukan sekadar solusi transportasi, tetapi juga bagian dari kebiasaan masyarakat pesisir yang sejak lama mengandalkan laut sebagai jalur mobilitas.
Perjalanan Wardani dimulai setelah ia mendapatkan cuti selama dua bulan pada bulan Ramadan tahun ini. Setelah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ia sempat menginap di Jakarta selama dua hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Muara Gembong melalui jalur laut.
Wardani mengatakan perjalanan laut terasa lebih sederhana dibandingkan jalur darat yang memerlukan waktu lebih lama. “Ini bisa dibilang edisi pulang kampung. Kebetulan saya sedang tidak bawa kendaraan pribadi. Kalau lewat jalur darat bawa mobil sendiri itu lumayan capek, harus memutar jauh, macet, bisa sampai empat jam lebih perjalanannya,” ujar Wardani kepada RRI Jakarta di atas perahu, Senin, 15 Maret 2026.
Selain menghindari kemacetan, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan utama memilih jalur laut. Menurut Wardani, biaya perjalanan menggunakan perahu jauh lebih murah dibandingkan harus mengeluarkan biaya bahan bakar untuk perjalanan darat.
“Cukup murah, tiketnya hanya Rp50.000 untuk orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis. Jadi bayar dua saja. Belum lagi bawaan barang kita tidak dibatasi. Sangat ekonomis,” ucapnya menambahkan.
Bagi Wardani, perjalanan menggunakan perahu bukanlah pengalaman baru karena ia berasal dari keluarga nelayan di Muara Gembong. Sejak kecil ia sudah terbiasa beraktivitas di laut hingga akhirnya memilih profesi sebagai pelaut kapal niaga.
Menurutnya, jalur laut bukan hanya alternatif transportasi, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat pesisir yang masih relevan hingga saat ini. Moda ini memungkinkan warga bepergian dengan lebih fleksibel tanpa bergantung pada kepadatan lalu lintas darat.
Wardani berharap transportasi perahu tradisional menuju Muara Gembong tetap dipertahankan karena masih sangat dibutuhkan masyarakat setempat. Ia menilai keberadaan transportasi tersebut tidak hanya ekonomis, tetapi juga menjadi bagian dari identitas wilayah pesisir.
“Menurut saya pribadi, transportasi seperti ini sangat layak, aman, dan ekonomis. Apalagi buat kita yang butuh perjalanan simpel tanpa macet. Harapannya transportasi tradisional kayak gini bisa terus dipertahankan,” kata Wardani.
Perjalanan mudik Wardani menunjukkan bahwa jalur laut masih menjadi pilihan strategis bagi sebagian warga pesisir. Di tengah kemacetan jalur darat saat musim mudik, perahu tradisional justru menawarkan perjalanan yang lebih tenang, praktis, sekaligus membawa nostalgia kehidupan laut yang telah ia kenal sejak kecil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....