Dampak Pemanasan Global Terhadap Ekosistem Terumbu Karang

  • 28 Jun 2024 20:18 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang : Pemanasan Global yang terjadi tidak hanya berdampak pada makhluk hidup di darat saja, namun berpengaruh juga pada ekositem terumbu karang yang ada di laut. Pemanasan global kini menjadi tantangan bagi terumbu karang. Perubahan iklim ini menyebabkan pemanasan global, kenaikan suhu air laut, dan penurunan biota laut atau terumbu karang yang mengakibatkan krisis pada terumbu karang tersebut. Pemanasan global dan kenaikan suhu air laut menyebabkan bleaching karang dan kerusakan terumbu. Suhu laut yang tinggi membuat karang kehilangan warna dan nutrisi, akhirnya mati.

Menurut Imelda Agustina, S.Pd, M.Si, Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Banda Aceh, menjelaskan perubahan iklim juga memperburuk keadaan dengan meningkatkan keasaman laut dan intensitas badai, merusak terumbu karang secara fisik. Perlindungan terumbu karang perlu sejalan dengan upaya global mengurangi pemanasan dan perubahan iklim. Dampak pemanasan global terhadap ekosistem terumbu karang dapat terjadi karena beberapa faktor :

1. Pemutihan karang yang terjadi akibat suhu di permukaan laut yang sangat berlebihan sehingga terumbu karang mengalami stres atau menyebabkan stres terhadap terumbu karang tersebut dan ketika terumbu karang mengalami stres dia akan melepaskan zooxanthellae dan alga simbiotik, inilah yang memberikan warna dan nutrisi kepada terumbu karang. Jadi tanpa kedua alga tersebut karang berubah menjadi putih dan tidak ada nutrisi yang tercukupi. Sehingga terumbu karang mengalami kematian jika suhu ini semakin tinggi dan kejadian pemutihan ini akan berlanjut sampai seterusnya.

2. Kenaikan suhu permukaan laut di sekitar terumbu karang akan sangat mempengaruhi keberadaan biota dan ikan-ikan di sekitar terumbu karang sehingga ikan dan biota juga mengalami perubahan atau pola distribusinya itu akan berubah. Bukan saja biota dan ikan, si predator juga akan mengalami pola distribusi yang sama. Dia akan merubah dan akan mencari rumah yang baru. Hal ini akan mengganggu keseimbangan, sehingga jika tidak ada spesiesnya yang ada di laut tersebut, atau spesies yang ada di terumbu karang yang akan mengganggu keseimbangan ekosistem terumbu karang, akan menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati pada terumbu karang.

3. Faktor yang ketiga adalah pengendapan atau sedimentasi. Faktor ini mempunyai efek terhadap perubahan terumbu karang, karena dapat mengurangi cahaya yang tertutupi dari sedimentasi tersebut akan menyumbat struktur pemberian makanan. Sehingga akan mempengaruhi fotosintesis atau perubahan warna pada alga simbiotik tadi.

4. Peningkatan karbon dioksida pada atmosfer menyebabkan lebih banyak CO₂ yang diserap oleh laut sehingga terjadi keasaman air laut. Ketika peningkatan karbon ini dapat menghambat kemampuan karang, membentuk kalsium karbonat yang menjadi bahan dasar dari struktur turumbu karang. Sehingga dapat melemahkan dan menghambat pertumbuhan turumbu karang tersebut. Kalau turumbu karang sudah mati, akan lama sekali untuk tumbuh yang baru, terumbu karang yang baru itu mengalami pertumbuhan itu dari mulai 4,5 mm per bulannya. Jadi sangat kecil sekali mengalami pertumbuhan. Sehingga butuh waktu yang lama untuk terumbu karang tumbuh.

5. Faktor yang kelima adalah cuaca ekstrim. Cuaca ekstrim yang saat ini juga cuaca yang sedang tidak kondusif itu akan mempengaruhi juga terumbu karang. Hal ini akan mengalami peningkatan frekuensi dan intensitas badai tropis sehingga terjadi kerusakan juga terhadap terumbu karang.

Imelda menjelaskan, untuk saat ini di kondisi terumbu karang di kota Sabang, bisa dikatakan sudah kembali indah setelah terjadinya tsunami karena salah satu faktornya adalah sudah banyaknya dibuat kawasan-kawasan konservasi oleh instansi-instansi terkait, sehingga tidak bisa sembarangan melakukan kegiatan yang ada di sekitar kawasan konservasi. Terutama tidak bisa melakukan kegiatan penangkapan dengan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan di kawasan-kawasan konservasi.

“Contohnya seperti di bagian Pantai Kasih sampai di Sabang Fair, kawasan tersebut sudah menjadi kawasan konservasi. Kemudian juga daerah Ujung Karang sampai ke Anoi Itam juga ada beberapa menjadi kawasan konservasi, sehingga tidak bisa melakukan kegiatan-kegiatan penangkapan dengan tidak menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Nah mungkin bisa digunakan dengan alat tangkap yang ramah lingkungan seperti contohnya pancing-pancing ulur, sehingga tidak merusak kegiatan terumbu karang di lokasi kegiatan terumbu karang” tambah Imelda. Selain adanya kawasan konservasi, dibutuhkan juga dukungan masyarakat untuk sama-sama menjaga lingkungan, agar pemanasan global dapat dikurangi, sehingga dampak buruk terhadap ekosistem terumbu karang juga dapat dihindari.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....