Hari Komunikasi Damai Internasional, Pentingnya Etika Digital

  • 07 Okt 2026 13:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Komunikasi Damai Internasional diperingati setiap tanggal 7 Oktober dengan fokus pada komunikasi yang mendukung perdamaian.
  • Peringatan ini digagas Ruben M. West pada tahun 2019 untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya etika berkomunikasi di ruang digital.
  • Pengguna internet perlu menerapkan etika komunikasi untuk mencegah konflik, perundungan, dan penyebaran informasi berbahaya di media sosial.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Komunikasi Damai Internasional diperingati setiap tanggal 7 Oktober dan berfokus pada komunikasi yang mendukung perdamaian. Peringatan tersebut digagas Ruben M. West pada 2019 untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya etika berkomunikasi di ruang digital.

Peringatan ini menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang santun di ruang digital. Pengguna internet perlu menerapkan etika agar komunikasi tidak memicu konflik, perundungan, atau penyebaran informasi berbahaya.

Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Maria Sobon Sompe, mengatakan komunikasi damai sangat penting. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menerapkan dialog inklusif dan penuh pengertian di lingkungan kerja, keluarga, serta masyarakat.

“Hari-hari seperti Hari Komunikasi Damai Internasional semakin penting di tengah berbagai tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini disebabkan sentimen untuk memecah belah selalu tinggi, terutama melalui penyebaran kebencian dan intoleransi,” ucapnya dikutip dari laman Perpusnas, Rabu, 7 Oktober 2026.

Komunikasi damai juga mendorong masyarakat menyelesaikan perbedaan melalui dialog, kerja sama, dan kolaborasi. Prinsip tersebut semakin relevan ketika masyarakat menggunakan internet untuk berkomunikasi setiap hari.

Dikutip dari laman United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), literasi media membantu masyarakat menggunakan lingkungan daring secara bertanggung jawab. Kemampuan tersebut juga membantu masyarakat menghadapi misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian.

Etika komunikasi digital dapat dimulai dengan mempertimbangkan pesan sebelum mengirimkannya kepada orang lain. Pengguna perlu memperhatikan pilihan kata agar pesan tidak menyinggung atau menyakiti penerima.

UNESCO menyebut literasi media dan informasi juga membantu masyarakat mengakses, menganalisis, mengevaluasi, serta membuat konten. Keterampilan tersebut membantu pengguna memahami informasi sebelum mengambil keputusan atau menyebarkannya.

Etika komunikasi digital juga mengharuskan pengguna menghargai orang lain dalam setiap percakapan. Pengguna perlu menghindari hinaan, ancaman, perundungan, serta komentar yang menyerang seseorang secara pribadi.

United Nations Children's Fund (UNICEF) Indonesia mengingatkan masyarakat untuk berpikir sebelum mengirim pesan, foto, atau video. Konten yang sudah dibagikan dapat sulit dikendalikan dan hampir tidak mungkin terhapus sepenuhnya.

Pengguna juga perlu menghormati privasi orang lain ketika berkomunikasi melalui internet. Jangan membagikan alamat, nomor telepon, data bank, atau kata sandi tanpa alasan yang jelas.

Selain menjaga privasi, pengguna perlu memeriksa informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi penyebaran informasi keliru yang berpotensi memicu kesalahpahaman.

Komunikasi damai tidak berarti pengguna harus menghindari semua perbedaan pendapat di internet. Pengguna tetap dapat menyampaikan kritik dengan bahasa yang menghormati orang lain dan fokus pada persoalan.

Etika komunikasi digital pada akhirnya membantu menciptakan ruang daring yang lebih aman dan sehat. Melalui komunikasi yang bijak, masyarakat dapat menggunakan teknologi untuk membangun hubungan, bukan memperbesar konflik. (Davina Keisha Salsabila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....