UIII Dorong Lulusan Jadi 'Policy Maker' dengan Keahlian dan Integritas

  • 27 Agt 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • UIII menekankan kekhasan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, keahlian spesifik, dan orientasi pada dampak.
  • Lulusan UIII diarahkan menjadi 'policy maker', bukan sekadar akademisi atau tenaga profesional di bidangnya.
  • Mahasiswa internasional didorong meneliti negara asalnya, sehingga hasil riset memperkaya khazanah keilmuan dan perspektif global di UIII.

RRI.CO.ID, Depok - Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menekankan kekhasan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik. Namun, juga memiliki integritas, keahlian spesifik, serta kemampuan memberikan dampak melalui kebijakan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UIII, Dr. Muammar Kadafi, Lc, MA, dalam momentum wisuda UIII yang diikuti 204 lulusan dari 21 negara.

"Yang membedakan adalah mahasiswa-mahasiswa yang lulus memang menunjukkan tingkat akademiknya yang sangat tinggi. Selain memahami dan mengikuti kegiatan kuliah, mereka juga sangat aktif di kegiatan-kegiatan di luar kampus," kata Muammar kepada wartawan usai acara Wisuda ke-4 UIII, di Depok, Kamis, 27 Agustus 2026.

Dari 204 wisudawan, sebanyak 170 merupakan lulusan program magister (S2) dan 34 lulusan program doktor (S3). Wisuda ini menjadi wisuda keempat bagi lulusan S2 sekaligus menjadi wisuda perdana bagi lulusan S3 UIII.

Menurut Muammar Kadafi, keberadaan lulusan dari berbagai negara menjadi salah satu kekuatan UIII sebagai kampus berorientasi internasional. Sejumlah negara seperti Madagaskar, Armenia, dan Liberia juga untuk pertama kalinya memiliki lulusan yang diwisuda dari UIII.

Tidak Sekadar Mencetak Akademisi

Lebih jauh Muammar Kadafi menjelaskan, pendidikan di UIII tidak diarahkan semata-mata untuk mencetak dosen, guru, atau tenaga profesional. Tetapi, juga membentuk lulusan yang mampu berperan sebagai pembuat kebijakan atau policy maker.

Salah satunya diterapkan pada bidang pendidikan. Lulusan tidak hanya diarahkan memahami proses belajar-mengajar, tetapi juga mampu memahami bagaimana kebijakan pendidikan dirancang dan diimplementasikan.

"Kita tidak mencetak dia hanya sebagai dosen atau guru. Kita mencetak dia sebagai policy maker, supaya tahu bagaimana meletakkan kurikulum pendidikan," katanya.

Pendekatan serupa diterapkan pada berbagai bidang keilmuan lainnya. Lulusan Studi Islam diharapkan menjadi ulama yang memiliki integritas, sementara lulusan ekonomi dan bisnis didorong mengembangkan bisnis secara nyata.

Adapun lulusan ilmu politik diharapkan mampu berkontribusi dalam kehidupan politik dengan tetap berpegang pada nilai dan integritas.

Keahlian Spesifik Jadi Pembeda

Kekhasan UIII juga terlihat dari program studi yang menawarkan fokus keilmuan tertentu. Pada jenjang magister, misalnya, Master of Public Policy memiliki spesialisasi pada isu perubahan iklim atau climate change.

Sementara, Master of Finance memiliki fokus pada sustainable finance. Menurut Muammar, kekhususan tersebut menjadi pembeda dibandingkan program studi sejenis yang tersedia di berbagai perguruan tinggi.

"Master Public Policy kita punya, tetapi spesifik specializing on climate change. Master Finance juga kita punya specializing sustainable finance. Jadi bagaimana uang itu bisa sustain untuk ke depan, itu hal yang lain," ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki gelar akademik. Namun, juga mempunyai kompetensi yang relevan dengan tantangan global.

Lulusan S3 Pertama Hadirkan Riset Berbeda

Wisuda perdana lulusan S3 juga menjadi catatan penting bagi perkembangan UIII. Sebanyak 34 lulusan doktor berasal dari program studi Islamic Studies, Economics, Education, dan Political Science.

Muammar Kadafi mengatakan, karya disertasi para lulusan menunjukkan kualitas akademik yang baik dengan kebaruan atau novelty yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

"Alumni S3 yang pertama ini menunjukkan kualitas yang sangat bagus. Tulisan-tulisan disertasinya menghasilkan distingsi yang berbeda dan novelty yang bisa dimanfaatkan," ujarnya.

Khusus mahasiswa asing, UIII juga mendorong penelitian yang berkaitan dengan negara asal mereka. Hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi tambahan khazanah keilmuan, sekaligus menjadi sumber pengetahuan mengenai berbagai negara di lingkungan akademik UIII.

Jangan Berhenti Setelah Wisuda

Lebih lanjut, Muammar Kadafi menyampaikan pesan Rektor UIII saat wisuda agar para lulusan tidak berhenti mengembangkan diri setelah memperoleh gelar akademik.

Lulusan S3 didorong terus melakukan penelitian dan terhubung dengan lembaga-lembaga yang memiliki dampak nyata. Sementara lulusan S2 juga diharapkan melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral, baik di UIII maupun perguruan tinggi lainnya.

"Jangan stop di sini. Memang S3 sudah selesai, tetapi jangan berhenti. Penelitian wajib melekat pada lembaga-lembaga yang memang ada dampaknya," katanya.

Menurut dia, keberhasilan pendidikan UIII tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang memperoleh gelar, tetapi juga dari sejauh mana ilmu dan kompetensi mereka dapat diimplementasikan di masyarakat.

"Kalau hanya stop di sini, berarti kami yang belum sukses untuk mendidik kalian," kata Muammar mengutip pesan Rektor.

UIII sendiri terus mengembangkan bidang akademiknya. Setelah membuka Fakultas Sains dan Teknologi pada tahun sebelumnya, tahun ini UIII membuka Fakultas Hukum. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari rencana UIII menuju tujuh fakultas di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....